Pages

Showing posts with label Islamic Education. Show all posts
Showing posts with label Islamic Education. Show all posts

Monday, 1 June 2015

STOP Bullying's Video

Semua orang tercipta dengan berbeda. Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit sawo matang, hingga cokelat kehitam-hitaman. Ada yang lahir di tanah tropis, ada yang lahir di tanah super dingin. Ada yang memiliki bakat intelektual, ada yang memiliki bakat musikal.Semuanya itu telah menjadi sebuah takdir yang indah yang dipilihkan Allah untuk para hambaNya sebagai bentuk cintaNya.Tinggal bagaimana seorang manusia berusaha untuk terus memperbaiki dirinya di hadapan Sang Pencipta. Tinggal bagaimana seorang manusia merespon ciptaanNya yang terlahir pada sesamanya. Menghargai, atau bahkan mencela nan menunjukkan rasa tidak suka. Hingga akhirnya sesuatu yang ada pada diri saudara membuat kitaterkadang merasa tidak enak dan seakan-akan tidak normal yang harus mendapatan perlakuan "berbeda". Harus dibedakan dengan sejuntai hinaan bahkan tindakan aneh lainnya setiap bertatap muka

Pasti di antara kita sudah sering mendengar istilah bullying. Ya, bullying. Kata tersebut menjadi sangat fenomenal di kalangan bawah hingga atas.kata yang membuat sebagian orang mungkin merasakan kepuasan tersendiri dan menikmatinya. Namun sebagian orang yang lainnya dapat dipastikan mendapatkan perasaan yang sebaliknya. Terutama untuk "korban bullying" itu sendiri.  Bahkan pernah terjadi suatu peristiwa akhr-akhir ini, di mana seseorang ingin mengakhiri hidupnya dengan kata lain bunuh diri akibat tindakan bullyng yang menimpanya.

Lalu bagaimana sebenarnya yang harus dijadikan pemecaan masalah seperti ini? Sebelumnya silakan kunjungi alamat di bawah ini untuk melihat sejenak cuplikan contoh tindakan bullying yang mungkin saja masih terjadi di antara kita. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan sebuah renungan

https://www.youtube.com/watch?v=ti0fMc6M&feature=youtu.be

Thursday, 7 May 2015

Karya Ilmiah


Menciptakan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah
(Keterkaitan Antara Kepala Sekolah dengan Penciptaan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah)
Oleh: Latifatul Fajriyah
 

KATA PENGANTAR
  Syukur penulis haturkan kepada Allah SWT Yang telah memberikan hidayah dan bimbinganNya untuk dapat terselesaikannya karya ilmiah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW serta keluarga, sahabat dan para pengikutnya.
Karya ilmiah dengan judul “Menciptakan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah” ini disusun untuk memenuhi tugas Uji Kompetensi II mata kuliah Budaya dan Tata Nilai Manajerial Kependidikan semester IV, program studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa penyusunan karya ilmiah ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih terutama kepada Drs. Syamsudin, M.Pd selaku dosen pengampu yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun karya ilmiah ini.
Dari penyusunan karya ilmiah ini penulis berharap adanya sebuah manfaat yang besar bagi pengembangan ilmu pendidikan khususnya.


Penulis


A.    PENDAHULUAN
Budaya Islami setidaknya berkaitan dengan budaya yang diusung melalui syariat Islam sebagai pedoman yang digunakan. Budaya Islami di sekolah merupakan sebuah wacana yang sangat perlu untuk dikembangkan dan diberdayakan mengingat begitu banyak permasalahan hidup yang belum terselesaikan akibat belum kembalinya titik penyelesaian dengan cara-cara Islami.
Berkaitan dengan budaya Islami di sekolah tentunya ada pemeran-pemeran tertetu yang menjadi tonggak utama dalam pembentukannya. Perlunya pembahasan mengenai tonggak utama tersebut memberikan gambaran bahwa budaya Islami sangat dipengaruhi dengan segala yang ada/dilakukan oleh pihak tersebut. Secara tidak langsung pemenuhan terciptanya budaya Islami sangat berhubungan erat dengan keadaan pihak utama dalam pembentukan budaya di sekolah.
B.     ISI
Menurut Musa Asy’arie, kebudayaan merupakan proses sebagai eksistensi hidup manusia, kebudayaan adalah suatu kegiatan total diri manusia, yang meliputi akal yaitu pemikiran dan zikir serta kesatuannya dalam perbuatan.[1] Selain itu, budaya sekolah juga diartikan sebagai seperangkat norma, nilai, kepercayaan, ritual, seremoni, simbol, dan cerita yang meliputi seluruh person di sekolah. [2]
Sedangkan budaya sekolah sendiri merupakan transmisi secara sejarah, bentuk makna meliputi norma, nilai, kepercayaan, seremoni, ritual, tradisi, dan pemahaman mitos oleh anggota masyarakat sekolah.[3]
Adanya budaya sekolah sangat berpengaruh dengan hasil pendidikan. Budaya sekolah sangat berkaitan dengan perilaku sekolah yang akan timbul sebagai cerminan dari budaya tersebut. Budaya yang buruk akan melahirkan ekosistem pendidikan yang buruk, dan sebaliknya budaya yang baik akan melahirkan ekosistem pendidikan yang produktif dan efektif dalam pencapaian  tujuan.
Dengan adanya siklus timbal balik antara budaya dengan hasil pendidikan, maka sangat diperlukan adanya budaya sekolah yang matang, mengarahkan segala bentuk kegiatan yang tercermin dalam proses panjang pendidikan. Dalam buku Manajemen Pendidikan karya Prof. Dr. H. Muhaimin dan lainnya disebutkan bahwa sebenarnya budaya sekolah/madrasah merupakan sesuatu yang dibangun dari hasil pertemuan antara nilai-nilai (values) yang dianut oleh kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin dengan nilai-nilai yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang ada dalam sekolah/madrasah tersebut.[4] Hal tersebut mengindikasikan bahwa budaya sekolah yang baik dapat tercapai dari tonggak utama penciptaan nilai-nilai yaitu kepala sekolah.


C.    PEMBAHASAN
Budaya sekolah sebagai bagian dari budaya korporat memiliki beberapa ciri di antaranya adalah terdapat pemisahan kekayaan (antara milik indvidu/keluarga/kelompok dengan milik organisasi sebagai badan hukum), pemisahan tanggungjawab antara pemlik dan pelaksana, mengutamakan kepentingan pelanggan, bekerja dengan sistem, adanya pencatatan dan transparansi, adanya pertanggungjawaban, bergerak dengan strategi dan rencana kerja, serta adanya upaya regenerasi berkelanjutan.[5]
Nilai-nilai yang dianut di dalam sekolah/madrasah dibangun oleh pikian-pikiran manusia yang ada dalam sekolah/madrasah. Pertemuan pikiran-pikiran manusia tersebut kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan “pikiran organisasi”.(Kasali, 2006)
Mengenai pikiran organisasi tersebut penjelasan Muhaimin dan rekan-rekan bahwa sebelum sekolah atau madrasah memiliki kecukupan untuk menjadi unggul, maka paradigma berpikir orang-orang di sekolah/madrasah tersebut harus diubah terlebih dahulu untuk mampu mengimplementasikan berbagai nilai-nilai menuju keunggulana. Disinilah peran penting pemimpin dalam menuju keunggulan, yaitu mengubah paradigma beripikir orang-orang yang ada di sekolah/madrasah.[6]
Sedangkan alasan mengapa kewajiban pengubahan tersebut berada pada kepala sekolah karena kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki kecukuan wewenang dalam organisasi untuk melaksanakan perubahan dalam bentuk yang radikal seksalipun.[7] Kedekatan antara terbentuknya budaya sekolah/madrasah dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh kepala sekolah memberikan sebuah konsekuensi tersendiri bagi kepala sekolah atas semua keputusan yang diambil. Kepala sekolah harus memiliki komitmen yang kuat dalam menerapkan budaya sekolah. Seperti halnya pimpinan harus memiliki komitmen kuat menerapkan budaya organisasi, setelah itu baru dapat diinternalisasi kepada personil.[8]
Dalam sebuah riset internasional tentang karakteristik para pemimpin dunia yang sangat berhasil, dan hasil riset tersebut menunjukkan bahwa hampir semua karakter mereka adalah sama yaitu mengimplementasikan dengan sungguh-sungguh beberapa nilai yang menjadi akhlak Rasulullah SAW. (Agustian, 2007)
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya fenomena yang begitu menjamin kebenaran Islam dijadikan pedoman hidup, termasuk dalam pembentukan suatu budaya masyarakat sekolah. Hal ini berarti bahwa pemimpin/kepala sekolah yang dapat dipercayakan sebagai tonggak utama dalam ketercapaian budaya sekolah yang baik adalah kepala sekolah yang mampu menerapkan budaya Islami berdasar akhlak-akhlak Rasulullah SAW.
Penelitian yang dilakukan oleh Covey (2005), dalam surveynya terhadap 54.000 orang dan minta kepada mereka untuk menyebutkan kualitas pemimpin yang diinginkannya memberikan hasil secara berurutan sebagai berikut: (1) Integritas, (2) Komuniator, (3) Berorientasi ada manusia, (4) Visioer, (5) Peduli, (6) Pengambil Keputusan, (7) Penuh Dedikasi, (8) Panutan, (9) Motivator, (10) Ahli dan pemberani. Kesemua hal tersebut juga merupakan akhlak Rasulullah SAW.[9] Sebagai kepala sekolah tentunya dalam menciptakan budaya sekolah harus memperhatikan pengembangan karakter pribadinya. Semampu mungkin untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang terus berusaha agar memiliki standar kepemimpinan yang sesuai Rasulullah SAW.
Sedangkan dalam pelaksanaan penciptaan budaya Islami di sekolah, kepala sekolah harus mengimplementasikan nilai-nilai. Sebab nilai-nilai mempengaruhi cara bertindak seseorang. Apabila nila-nilai diimplementasikanoleh keseluruhan/sebagian besar orang-orang di organisasi, maka tentu akan mempengaruhi organisasi tersebut, termasuk produktivitas organisasi.[10]
Berikut gambar nilai-nilai prioritas sesuai dengan kondisi lingkungan dan fokus sekolah/madrasah yang dikutip dari buku karya Muhaimin dkk., Manajemen Pendidikan:
Internal Fokus Sekolah/Madrasah
Eksternal
Inovatif, Adaptif, Bekerja Keras, Dan Peduli Terhadap Orang Lain
Disiplin, Jujur, Sederhana Antara Orang Dan Bagian, Dan Berwawassan Luas
Internal
Inisiatif, Kebersamaan, Tanggung Jawab, Rasa Memiliki, Dan Komitmen Terhadap Lembaga
Kerja Sama, Saling Pengertian, Semangat Persatuan, Taat Asa, Memotivasi, Dan Membimbing


Labil
Stabil


 Kondisi Lingkungan
Gambar nilai-nilai prioritas sesuai dengan kondisi lingkungan dan fokus sekolah/madrasah
Setidaknya nilai-nilai tersebutlah yang harus dijadikan acuan yang dikembangkan dalam menciptkan budaya Islami di sekolah/madrasah.
Sebelum menerapkan semua nilai-nilai apa yang akan dikembangkan dalam budaya sekolah, tentunya kepala sekolah beserta jajaran pendidik harus menganalisa keadaan yang ada dalam sekolah/madrasah itu sendiri. Sehingga dapat lebih mudah untuk menyusun tujuan-tujuan dan langkah-langkah selanjutnya. Analisa tersebut dapat mengacu pada sistem SWOT (Strenght, Weekness, Opportunity and Threat) keadaan budaya yang ada.



D.    PENUTUP
Menciptakan budaya Islam di dalam sekolah merupakan peran besar bagi setiap pihak sekolah, namunpihak yang memiliki peran paling srategis yang mentukan berhasil atau tidaknya menciptakan budaya tersebut adalah kepala sekolah. sebab kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki kecukupan wewenang dalam organisasi untuk melaksanakan perubahan dalam bentuk yang radikal seksalipun.
Maka dari perlu adanya karakter kepala sekolah sebagai pemimpin yang berkarakter Islami seperti Rasulullah SAW. Dengan beberapa prioritas nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan kesehariannya sehingga internalisasi nilai-nilai budaya Islami di sekolah terhadap seluruh pihak sekolah dapat terwujud dengan sempurna.


DAFTAR PUSTAKA
Asyarie, Musa.1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: LESFI.
Mangkumanegara, Anwar. (2005). Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Refika Aditama.
Muhaimin, dkk. (2009). Manajemen Pendidikan Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta: KENCANAPRENADA MEDIA GROUP.

 Diajukan Untuk Memenuhi UK II Mata Kuliah Budayadan Tata Manajerial Kependidkian Semester IV
Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta





[1] Musa Asy’arie, 1992,  Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: LESFI, hal. 98
[2] Peterson, D, Kent, at issue Culture: Positive or Negative. National Staff Development Council: JSD Summer, 2002
[3] Stephen Stolp , Leadership for School Culture. ERIC Clearinghouse on Educational
[4] Muhaimin, hal. 50
[5] Muhaimin, hal. 47
[6] Muhaimin, hal. 52
[7] Muhaimin, hal. 52
[8] Anwar Prabu Mangkunegara, hal.118
[9] Muhaimin, hal.50
[10] Muhaimin, hal. 53

Wednesday, 6 May 2015

REVIEW KITAB TAFSIR



Review Kitab Tafsir Al-Qur’an Karya M.Quraish Shihab

Judul                           : TAFSIR Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan
Urutan Turunnya Wahyu
Penulis                         : Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab
Penerbit                       : PUSTAKA HIDAYAH
Tahun Terbit                : 1997
Kota Terbit                  : Bandung
Jumlah Halaman          : 888 halaman

Judul kitab tafsir karya M. Quraish Shihab yang diangkat adalah sesuai dengan tema pembahasan dalam kitab tafsir ini, yaitu fokus pada penguraian surat-surat pendek pada juz 30 Al-Qur’an dan terdapat 24 surat pendek yang dibahas di dalamnya. Sedangkan pembahasan diuraikan berurutan dari surat pendek yang lebih awal turun. Dari surat Al-Fatihah, surat Al-‘Alaq, surat Al-Muzzammil, surat Al-Muddatstsir, surat Al-Lahab, surat At-Takwir, surat Al-A’la, surat Asy-Syarh, surat Al-‘Ashr, surat Adh-Dhuha, surat Al-‘Adiyat, surat Al-Kautsar, surat At-Takatsur, surat Al-Ma’un, surat Al-Kafirun, surat Al-Fil, surat Al-ikhlash, surat Al-Falaq, surat An-Nas, surat Al-Qadr, surat At-Tin, Surat Al-Humazah, surat al-Balad, dan yang terakhir surat Ath-Thariq.
Memang tidak semua surat dalam juz 30 diangkat dalam pembahasan. Sedangkan tidak diangkatnya beberapa surat lain dalam juz 30 pada kitab ini penulis memiliki dua alasan seperti yang telah dikemukakan, yaitu “dalam memilih urut-urutan surah yang diuraikan, penulis berupaya untuk mendasarkannya pada perurutan masa turun surah-surah tersebut, sehingga pembaca dapat melihat bagaimana runtutan petunjuk Ilahi yang diberikan kepada Nabi saw. dan ummatnya. Menguraikan tafsir Al-Qur’an berdasarkan runtutan surah-surah dalam mush-haf sering menimbulkan pengulangan-pengulangan jika kosakata atau kandungan pesan ayat dan surahnya sama (mirip) dengan ayat dan surah yang telah ditafsirkan. Menurut hemat penulis, hal ini mengakibatkan diperlukannya waktu yang cukup banyak untuk memahami dan mempelajari Kitab Suci. Karena itu, memaparkan makna kosakata sebanyak mungkin, serta kaidah-kaidah tafsir yang dapat digunakan untuk memahami ayat-ayat yang tidak ditafsirkan mutlak diperlukan. Untuk itu, pertimbangan kedua yang penulis tempuh – dalam pemilihan surah-surah dalam buku ini- didasarkan pula pada banyaknya kaidah-kaidah tafsir yang dapat ditarik dari Al-Qur’an maupun dari disiplin ilmu Al-Qur’an, dan banyaknya kosakata penting yang dikandung oleh surah-surah tertentu. Di sisi lain, tentu saja pertimbangan yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa surah yang dipilih mengandung uraian yang berkaitan dengan kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa serta banyak dibaca oleh umat. Kedua pertimbangan terakhir itu mengakibatkan beberapa surah dalam urutan turun terpaksa belum tersajikan dalam buku ini.” (hal vii)
Metode yang digunakan oleh M.Quraish Shihab di dalam menafsirkan surat-surat pendek tersebut adalah dengan banyak merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah serta dengan metode tahliliy (mengurai) yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya, ayat demi ayat, sebagaimana urutannya dalam mush-haf Al-Qur’an. Salah satu corak tafsir tahliliy adalah tafsir bi al-ma’tsur “di mana sang mufassir mengandalkan penjelasan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. untuk menyajikan pesan-pesan Kitab Suci ini” (hal. vii). Sebagai contoh pembahasan dalam surat Al-Fatihah ayat pertama, M.Quraish Shihab melengkapinya dengan penyebutan ayat 23 surat ke-25 Al-Qur’an tentang karya-karya besar dan baik yang dilakukan oleh orang kafir tetapi tidak dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah. Selain itu, beliau juga memaparkan penjelasan dengan hadits Nabi mengenai pentingnya basmalah di awal kegiatan yang dilakukan. Begitu pula dalam menjelaskan kata ‘alamin pada ayat berikutnya, beliau menggunakan ayat 8 surat ke-16 Al-Qur’an.
Dalam penafsiran surat-surat yang diangkat, M.Quraish Shihab juga banyak memaparkan pendapat ‘ulama-‘ulama lain dalam mendukung penjelasan beliau. Tidak semerta-merta menggunakan pandangan pemikirannya saja. Hal ini juga memberikan keterkuatan pamahaman pembaca untuk lebih dalam mempelajari kitab tafsir ini.
Mungkin begitu banyak pandangan-pandangan mengenai ilmu Al-Qur’an yang sulit dicerna dan tidak menarik. Bahasanya kaku dan sulit merasuk ke dalam hati. Belum lagi ketika melihat ketebalan kitab-kitab tafsir yang sudah memberikan rona kejenuhan untuk menyelesaikan pembacaannya. Pandangan-pandangan itu semua seakan-akan jauh dari kriteria yang didapat dari kitab tafsir ini. Dua hal yang turut menonjol adalah pada segi gaya penyampaian isi dan segi bahasa yang digunakan.
Kitab ini begitu lengkap, menyuguhkan berbagai unsur pandangan yang dapat dipadukan dan melahirkan suatu kepahaman yang cukup komprehensif. Dikuatkan dengan penjelasan dan penguraian dengan memaparkan ayat-ayat lain yang berhubungan. Banyak ditemukan hadits-hadits penguat penjelasan pula. Selain itu kitab ini dilengkapi dengan berbagai pendapat ‘ulama-‘ulama lain.
Pemilihan bahasa cukup ringan, tidak membuat berat pembaca, yang menuntun pemahaman dengan hati. Tiap-tiap kalimat yang digunakan begitu mudah untuk dipahami dan dicerna, karena beliau mampu melakukan pemilihan kata dengan cukup cantik. Berbagai pembahasan ayat-ayat yang dirasakan berat sebelumnya, beliau menggiringnya dengan aroma-aroma kemudahan yang menggugah.
Melalui kitab ini, pembaca bukan hanya kaan mendapatkan ilmu dalam mengetahui maksud-maksud yang terkandung dalam Al-Qur’an, akan tetapi pembaca juga akan mendapatkan sebuah dorongan untuk berkarya. Berkarya dalam kehidupan yang dianugerahkan Allah untuktiap-tiap diri manusia yang tercipta. Melalui uraian surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, muncul sebuah pemahaman yang tidak sempit terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Kisah-kisah yang ada dalam surat, tata aturan, larangan maupun perintah, dapat disuguhkan dan kemudian dihadirkan dengan begitu indah. Kitab ini secara sadar ataupun tak sadar telah membuat titik-titik yang menyusun keyakinan pada setiap pembaca bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan ini. Penulis mampu menerobos pemikiran dan paradigma para pembaca untuk menunjukkan sebuah nilai “inilah kitab Al-Qur’an yang mulia”.



(Oleh: Latifatul Fajriyah-20130720090, PAI-B 
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)