Semua orang tercipta dengan berbeda. Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit sawo matang, hingga cokelat kehitam-hitaman. Ada yang lahir di tanah tropis, ada yang lahir di tanah super dingin. Ada yang memiliki bakat intelektual, ada yang memiliki bakat musikal.Semuanya itu telah menjadi sebuah takdir yang indah yang dipilihkan Allah untuk para hambaNya sebagai bentuk cintaNya.Tinggal bagaimana seorang manusia berusaha untuk terus memperbaiki dirinya di hadapan Sang Pencipta. Tinggal bagaimana seorang manusia merespon ciptaanNya yang terlahir pada sesamanya. Menghargai, atau bahkan mencela nan menunjukkan rasa tidak suka. Hingga akhirnya sesuatu yang ada pada diri saudara membuat kitaterkadang merasa tidak enak dan seakan-akan tidak normal yang harus mendapatan perlakuan "berbeda". Harus dibedakan dengan sejuntai hinaan bahkan tindakan aneh lainnya setiap bertatap muka
Pasti di antara kita sudah sering mendengar istilah bullying. Ya, bullying. Kata tersebut menjadi sangat fenomenal di kalangan bawah hingga atas.kata yang membuat sebagian orang mungkin merasakan kepuasan tersendiri dan menikmatinya. Namun sebagian orang yang lainnya dapat dipastikan mendapatkan perasaan yang sebaliknya. Terutama untuk "korban bullying" itu sendiri. Bahkan pernah terjadi suatu peristiwa akhr-akhir ini, di mana seseorang ingin mengakhiri hidupnya dengan kata lain bunuh diri akibat tindakan bullyng yang menimpanya.
Lalu bagaimana sebenarnya yang harus dijadikan pemecaan masalah seperti ini? Sebelumnya silakan kunjungi alamat di bawah ini untuk melihat sejenak cuplikan contoh tindakan bullying yang mungkin saja masih terjadi di antara kita. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan sebuah renungan
https://www.youtube.com/watch?v=ti0fMc6M&feature=youtu.be
Showing posts with label Islamic Education. Show all posts
Showing posts with label Islamic Education. Show all posts
Monday, 1 June 2015
Thursday, 7 May 2015
Karya Ilmiah
Menciptakan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah
(Keterkaitan Antara Kepala Sekolah dengan Penciptaan Budaya Islami di
Lingkungan Sekolah)
Oleh: Latifatul Fajriyah
KATA PENGANTAR
Syukur penulis haturkan kepada Allah
SWT Yang telah memberikan hidayah dan bimbinganNya untuk dapat terselesaikannya
karya ilmiah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW serta keluarga, sahabat dan para pengikutnya.
Karya ilmiah dengan judul “Menciptakan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah”
ini disusun untuk memenuhi tugas Uji Kompetensi II mata kuliah Budaya dan
Tata Nilai Manajerial Kependidikan semester IV, program studi Pendidikan Agama
Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa penyusunan karya ilmiah ini tidak terlepas dari
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih terutama kepada Drs. Syamsudin, M.Pd selaku dosen pengampu yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun karya ilmiah ini.
Dari penyusunan karya ilmiah ini penulis berharap adanya sebuah manfaat yang
besar bagi pengembangan ilmu pendidikan khususnya.
Penulis
A. PENDAHULUAN
Budaya Islami setidaknya berkaitan dengan budaya yang diusung melalui
syariat Islam sebagai pedoman yang digunakan. Budaya Islami di sekolah
merupakan sebuah wacana yang sangat perlu untuk dikembangkan dan diberdayakan
mengingat begitu banyak permasalahan hidup yang belum terselesaikan akibat
belum kembalinya titik penyelesaian dengan cara-cara Islami.
Berkaitan dengan budaya Islami di sekolah tentunya ada pemeran-pemeran
tertetu yang menjadi tonggak utama dalam pembentukannya. Perlunya pembahasan
mengenai tonggak utama tersebut memberikan gambaran bahwa budaya Islami sangat
dipengaruhi dengan segala yang ada/dilakukan oleh pihak tersebut. Secara tidak
langsung pemenuhan terciptanya budaya Islami sangat berhubungan erat dengan
keadaan pihak utama dalam pembentukan budaya di sekolah.
B. ISI
Menurut Musa Asy’arie,
kebudayaan merupakan proses sebagai eksistensi hidup manusia, kebudayaan adalah
suatu kegiatan total diri manusia, yang meliputi akal yaitu pemikiran dan zikir
serta kesatuannya dalam perbuatan.[1] Selain
itu, budaya sekolah juga diartikan sebagai seperangkat norma, nilai,
kepercayaan, ritual, seremoni, simbol, dan cerita yang meliputi seluruh person
di sekolah. [2]
Sedangkan budaya
sekolah sendiri merupakan transmisi secara sejarah, bentuk makna meliputi
norma, nilai, kepercayaan, seremoni, ritual, tradisi, dan pemahaman mitos oleh anggota
masyarakat sekolah.[3]
Adanya budaya sekolah sangat
berpengaruh dengan hasil pendidikan. Budaya sekolah sangat berkaitan dengan
perilaku sekolah yang akan timbul sebagai cerminan dari budaya tersebut. Budaya
yang buruk akan melahirkan ekosistem pendidikan yang buruk, dan sebaliknya
budaya yang baik akan melahirkan ekosistem pendidikan yang produktif dan
efektif dalam pencapaian tujuan.
Dengan adanya siklus
timbal balik antara budaya dengan hasil pendidikan, maka sangat diperlukan
adanya budaya sekolah yang matang, mengarahkan segala bentuk kegiatan yang
tercermin dalam proses panjang pendidikan. Dalam buku Manajemen Pendidikan
karya Prof. Dr. H. Muhaimin dan lainnya disebutkan bahwa sebenarnya budaya
sekolah/madrasah merupakan sesuatu yang dibangun dari hasil pertemuan antara
nilai-nilai (values) yang dianut oleh kepala sekolah/madrasah sebagai
pemimpin dengan nilai-nilai yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang
ada dalam sekolah/madrasah tersebut.[4] Hal
tersebut mengindikasikan bahwa budaya sekolah yang baik dapat tercapai dari
tonggak utama penciptaan nilai-nilai yaitu kepala sekolah.
C. PEMBAHASAN
Budaya sekolah sebagai
bagian dari budaya korporat memiliki beberapa ciri di antaranya adalah terdapat
pemisahan kekayaan (antara milik indvidu/keluarga/kelompok dengan milik
organisasi sebagai badan hukum), pemisahan tanggungjawab antara pemlik dan
pelaksana, mengutamakan kepentingan pelanggan, bekerja dengan sistem, adanya
pencatatan dan transparansi, adanya pertanggungjawaban, bergerak dengan
strategi dan rencana kerja, serta adanya upaya regenerasi berkelanjutan.[5]
Nilai-nilai yang dianut
di dalam sekolah/madrasah dibangun oleh pikian-pikiran manusia yang ada dalam
sekolah/madrasah. Pertemuan pikiran-pikiran manusia tersebut kemudian
menghasilkan apa yang disebut dengan “pikiran organisasi”.(Kasali, 2006)
Mengenai pikiran
organisasi tersebut penjelasan Muhaimin dan rekan-rekan bahwa sebelum sekolah
atau madrasah memiliki kecukupan untuk menjadi unggul, maka paradigma berpikir
orang-orang di sekolah/madrasah tersebut harus diubah terlebih dahulu untuk
mampu mengimplementasikan berbagai nilai-nilai menuju keunggulana. Disinilah
peran penting pemimpin dalam menuju keunggulan, yaitu mengubah paradigma
beripikir orang-orang yang ada di sekolah/madrasah.[6]
Sedangkan alasan
mengapa kewajiban pengubahan tersebut berada pada kepala sekolah karena kepala
sekolah sebagai pemimpin memiliki kecukuan wewenang dalam organisasi untuk
melaksanakan perubahan dalam bentuk yang radikal seksalipun.[7] Kedekatan
antara terbentuknya budaya sekolah/madrasah dengan nilai-nilai yang ditanamkan
oleh kepala sekolah memberikan sebuah konsekuensi tersendiri bagi kepala
sekolah atas semua keputusan yang diambil. Kepala sekolah harus memiliki
komitmen yang kuat dalam menerapkan budaya sekolah. Seperti halnya pimpinan
harus memiliki komitmen kuat menerapkan budaya organisasi, setelah itu baru
dapat diinternalisasi kepada personil.[8]
Dalam sebuah riset
internasional tentang karakteristik para pemimpin dunia yang sangat berhasil,
dan hasil riset tersebut menunjukkan bahwa hampir semua karakter mereka adalah
sama yaitu mengimplementasikan dengan sungguh-sungguh beberapa nilai yang
menjadi akhlak Rasulullah SAW. (Agustian, 2007)
Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa adanya fenomena yang begitu menjamin kebenaran Islam
dijadikan pedoman hidup, termasuk dalam pembentukan suatu budaya masyarakat
sekolah. Hal ini berarti bahwa pemimpin/kepala sekolah yang dapat dipercayakan
sebagai tonggak utama dalam ketercapaian budaya sekolah yang baik adalah kepala
sekolah yang mampu menerapkan budaya Islami berdasar akhlak-akhlak Rasulullah
SAW.
Penelitian yang
dilakukan oleh Covey (2005), dalam surveynya terhadap 54.000 orang dan minta
kepada mereka untuk menyebutkan kualitas pemimpin yang diinginkannya memberikan
hasil secara berurutan sebagai berikut: (1) Integritas, (2) Komuniator, (3)
Berorientasi ada manusia, (4) Visioer, (5) Peduli, (6) Pengambil Keputusan, (7)
Penuh Dedikasi, (8) Panutan, (9) Motivator, (10) Ahli dan pemberani. Kesemua
hal tersebut juga merupakan akhlak Rasulullah SAW.[9] Sebagai kepala sekolah tentunya dalam menciptakan
budaya sekolah harus memperhatikan pengembangan karakter pribadinya. Semampu
mungkin untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang terus berusaha agar memiliki
standar kepemimpinan yang sesuai Rasulullah SAW.
Sedangkan dalam
pelaksanaan penciptaan budaya Islami di sekolah, kepala sekolah harus
mengimplementasikan nilai-nilai. Sebab nilai-nilai mempengaruhi cara bertindak
seseorang. Apabila nila-nilai diimplementasikanoleh keseluruhan/sebagian besar
orang-orang di organisasi, maka tentu akan mempengaruhi organisasi tersebut,
termasuk produktivitas organisasi.[10]
Berikut gambar
nilai-nilai prioritas sesuai dengan kondisi lingkungan dan fokus
sekolah/madrasah yang dikutip dari buku karya Muhaimin dkk., Manajemen
Pendidikan:
|
Internal Fokus Sekolah/Madrasah
|
Eksternal
|
Inovatif, Adaptif, Bekerja Keras, Dan Peduli Terhadap
Orang Lain
|
Disiplin, Jujur, Sederhana Antara Orang Dan Bagian,
Dan Berwawassan Luas
|
|
Internal
|
Inisiatif, Kebersamaan, Tanggung Jawab, Rasa
Memiliki, Dan Komitmen Terhadap Lembaga
|
Kerja Sama, Saling Pengertian, Semangat Persatuan,
Taat Asa, Memotivasi, Dan Membimbing
|
|
|
|
|
Labil
|
Stabil
|
|
|
Kondisi
Lingkungan
|
||
Gambar nilai-nilai
prioritas sesuai dengan kondisi lingkungan dan fokus sekolah/madrasah
Setidaknya nilai-nilai
tersebutlah yang harus dijadikan acuan yang dikembangkan dalam menciptkan budaya
Islami di sekolah/madrasah.
Sebelum menerapkan
semua nilai-nilai apa yang akan dikembangkan dalam budaya sekolah, tentunya
kepala sekolah beserta jajaran pendidik harus menganalisa keadaan yang ada
dalam sekolah/madrasah itu sendiri. Sehingga dapat lebih mudah untuk menyusun
tujuan-tujuan dan langkah-langkah selanjutnya. Analisa tersebut dapat mengacu
pada sistem SWOT (Strenght, Weekness, Opportunity and Threat) keadaan budaya
yang ada.
D. PENUTUP
Menciptakan budaya
Islam di dalam sekolah merupakan peran besar bagi setiap pihak sekolah,
namunpihak yang memiliki peran paling srategis yang mentukan berhasil atau
tidaknya menciptakan budaya tersebut adalah kepala sekolah. sebab kepala
sekolah sebagai pemimpin memiliki kecukupan wewenang dalam organisasi untuk
melaksanakan perubahan dalam bentuk yang radikal seksalipun.
Maka dari perlu adanya
karakter kepala sekolah sebagai pemimpin yang berkarakter Islami seperti
Rasulullah SAW. Dengan beberapa prioritas nilai-nilai yang diterapkan dalam
kehidupan kesehariannya sehingga internalisasi nilai-nilai budaya Islami di
sekolah terhadap seluruh pihak sekolah dapat terwujud dengan sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Asyarie, Musa.1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an.
Yogyakarta: LESFI.
Mangkumanegara, Anwar.
(2005). Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Refika Aditama.
Muhaimin, dkk. (2009). Manajemen Pendidikan
Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah.
Jakarta: KENCANAPRENADA MEDIA GROUP.
Diajukan Untuk Memenuhi UK II
Mata Kuliah Budayadan Tata Manajerial Kependidkian Semester IV
Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
[1] Musa Asy’arie, 1992, Manusia Pembentuk
Kebudayaan dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: LESFI, hal. 98
[2] Peterson, D, Kent, at issue Culture: Positive or
Negative. National Staff Development Council: JSD Summer, 2002
[4] Muhaimin, hal.
50
[5] Muhaimin, hal.
47
[6] Muhaimin, hal.
52
[7] Muhaimin, hal.
52
[9] Muhaimin,
hal.50
[10] Muhaimin, hal.
53
Labels:
Islamic Education
Wednesday, 6 May 2015
REVIEW KITAB TAFSIR
Review Kitab Tafsir Al-Qur’an Karya M.Quraish Shihab
Judul : TAFSIR Al-Qur’an
Al-Karim, Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan
Urutan Turunnya Wahyu
Penulis : Prof. Dr. Muhammad
Quraish Shihab
Penerbit : PUSTAKA HIDAYAH
Tahun
Terbit : 1997
Kota
Terbit : Bandung
Jumlah
Halaman : 888 halaman
Judul kitab tafsir karya M. Quraish Shihab yang diangkat adalah
sesuai dengan tema pembahasan dalam kitab tafsir ini, yaitu fokus pada
penguraian surat-surat pendek pada juz 30 Al-Qur’an dan terdapat 24 surat
pendek yang dibahas di dalamnya. Sedangkan pembahasan diuraikan berurutan dari
surat pendek yang lebih awal turun. Dari surat Al-Fatihah, surat Al-‘Alaq,
surat Al-Muzzammil, surat Al-Muddatstsir, surat Al-Lahab, surat At-Takwir,
surat Al-A’la, surat Asy-Syarh, surat Al-‘Ashr, surat Adh-Dhuha, surat
Al-‘Adiyat, surat Al-Kautsar, surat At-Takatsur, surat Al-Ma’un, surat
Al-Kafirun, surat Al-Fil, surat Al-ikhlash, surat Al-Falaq, surat An-Nas, surat
Al-Qadr, surat At-Tin, Surat Al-Humazah, surat al-Balad, dan yang terakhir
surat Ath-Thariq.
Memang tidak semua surat dalam juz 30 diangkat dalam pembahasan. Sedangkan
tidak diangkatnya beberapa surat lain dalam juz 30 pada kitab ini penulis
memiliki dua alasan seperti yang telah dikemukakan, yaitu “dalam memilih urut-urutan
surah yang diuraikan, penulis berupaya untuk mendasarkannya pada perurutan masa
turun surah-surah tersebut, sehingga pembaca dapat melihat bagaimana runtutan
petunjuk Ilahi yang diberikan kepada Nabi saw. dan ummatnya. Menguraikan tafsir
Al-Qur’an berdasarkan runtutan surah-surah dalam mush-haf sering
menimbulkan pengulangan-pengulangan jika kosakata atau kandungan pesan ayat dan
surahnya sama (mirip) dengan ayat dan surah yang telah ditafsirkan. Menurut
hemat penulis, hal ini mengakibatkan diperlukannya waktu yang cukup banyak untuk
memahami dan mempelajari Kitab Suci. Karena itu, memaparkan makna kosakata
sebanyak mungkin, serta kaidah-kaidah tafsir yang dapat digunakan untuk
memahami ayat-ayat yang tidak ditafsirkan mutlak diperlukan. Untuk itu,
pertimbangan kedua yang penulis tempuh – dalam pemilihan surah-surah dalam buku
ini- didasarkan pula pada banyaknya kaidah-kaidah tafsir yang dapat ditarik
dari Al-Qur’an maupun dari disiplin ilmu Al-Qur’an, dan banyaknya kosakata
penting yang dikandung oleh surah-surah tertentu. Di sisi lain, tentu saja
pertimbangan yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa surah yang dipilih
mengandung uraian yang berkaitan dengan kehidupan beragama, bermasyarakat dan
berbangsa serta banyak dibaca oleh umat. Kedua pertimbangan terakhir itu
mengakibatkan beberapa surah dalam urutan turun terpaksa belum tersajikan dalam
buku ini.” (hal vii)
Metode yang digunakan oleh M.Quraish Shihab di dalam menafsirkan
surat-surat pendek tersebut adalah dengan banyak merujuk pada Al-Qur’an dan
Sunnah serta dengan metode tahliliy (mengurai) yang menafsirkan
ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya, ayat demi ayat, sebagaimana
urutannya dalam mush-haf Al-Qur’an. Salah satu corak tafsir tahliliy
adalah tafsir bi al-ma’tsur “di mana sang mufassir mengandalkan
penjelasan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. untuk menyajikan pesan-pesan Kitab
Suci ini” (hal. vii). Sebagai contoh pembahasan dalam surat Al-Fatihah ayat
pertama, M.Quraish Shihab melengkapinya dengan penyebutan ayat 23 surat ke-25
Al-Qur’an tentang karya-karya besar dan baik yang dilakukan oleh orang kafir
tetapi tidak dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah. Selain itu, beliau juga
memaparkan penjelasan dengan hadits Nabi mengenai pentingnya basmalah di awal
kegiatan yang dilakukan. Begitu pula dalam menjelaskan kata ‘alamin pada ayat
berikutnya, beliau menggunakan ayat 8 surat ke-16 Al-Qur’an.
Dalam penafsiran surat-surat yang diangkat, M.Quraish Shihab juga
banyak memaparkan pendapat ‘ulama-‘ulama lain dalam mendukung penjelasan
beliau. Tidak semerta-merta menggunakan pandangan pemikirannya saja. Hal ini
juga memberikan keterkuatan pamahaman pembaca untuk lebih dalam mempelajari
kitab tafsir ini.
Mungkin begitu banyak pandangan-pandangan mengenai ilmu Al-Qur’an
yang sulit dicerna dan tidak menarik. Bahasanya kaku dan sulit merasuk ke dalam
hati. Belum lagi ketika melihat ketebalan kitab-kitab tafsir yang sudah
memberikan rona kejenuhan untuk menyelesaikan pembacaannya. Pandangan-pandangan
itu semua seakan-akan jauh dari kriteria yang didapat dari kitab tafsir ini.
Dua hal yang turut menonjol adalah pada segi gaya penyampaian isi dan segi
bahasa yang digunakan.
Kitab ini begitu lengkap, menyuguhkan berbagai unsur pandangan yang
dapat dipadukan dan melahirkan suatu kepahaman yang cukup komprehensif.
Dikuatkan dengan penjelasan dan penguraian dengan memaparkan ayat-ayat lain
yang berhubungan. Banyak ditemukan hadits-hadits penguat penjelasan pula.
Selain itu kitab ini dilengkapi dengan berbagai pendapat ‘ulama-‘ulama lain.
Pemilihan bahasa cukup ringan, tidak membuat berat pembaca, yang
menuntun pemahaman dengan hati. Tiap-tiap kalimat yang digunakan begitu mudah
untuk dipahami dan dicerna, karena beliau mampu melakukan pemilihan kata dengan
cukup cantik. Berbagai pembahasan ayat-ayat yang dirasakan berat sebelumnya,
beliau menggiringnya dengan aroma-aroma kemudahan yang menggugah.
Melalui kitab ini, pembaca bukan hanya kaan mendapatkan ilmu dalam
mengetahui maksud-maksud yang terkandung dalam Al-Qur’an, akan tetapi pembaca juga
akan mendapatkan sebuah dorongan untuk berkarya. Berkarya dalam kehidupan yang
dianugerahkan Allah untuktiap-tiap diri manusia yang tercipta. Melalui uraian
surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, muncul sebuah pemahaman yang
tidak sempit terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Kisah-kisah yang ada dalam surat,
tata aturan, larangan maupun perintah, dapat disuguhkan dan kemudian dihadirkan
dengan begitu indah. Kitab ini secara sadar ataupun tak sadar telah membuat
titik-titik yang menyusun keyakinan pada setiap pembaca bahwa Al-Qur’an adalah
benar-benar salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan ini. Penulis mampu
menerobos pemikiran dan paradigma para pembaca untuk menunjukkan sebuah nilai
“inilah kitab Al-Qur’an yang mulia”.
(Oleh: Latifatul Fajriyah-20130720090, PAI-B
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)
Labels:
Islamic Education
