Pages

Thursday, 7 May 2015

Karya Ilmiah


Menciptakan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah
(Keterkaitan Antara Kepala Sekolah dengan Penciptaan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah)
Oleh: Latifatul Fajriyah
 

KATA PENGANTAR
  Syukur penulis haturkan kepada Allah SWT Yang telah memberikan hidayah dan bimbinganNya untuk dapat terselesaikannya karya ilmiah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW serta keluarga, sahabat dan para pengikutnya.
Karya ilmiah dengan judul “Menciptakan Budaya Islami di Lingkungan Sekolah” ini disusun untuk memenuhi tugas Uji Kompetensi II mata kuliah Budaya dan Tata Nilai Manajerial Kependidikan semester IV, program studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa penyusunan karya ilmiah ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih terutama kepada Drs. Syamsudin, M.Pd selaku dosen pengampu yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun karya ilmiah ini.
Dari penyusunan karya ilmiah ini penulis berharap adanya sebuah manfaat yang besar bagi pengembangan ilmu pendidikan khususnya.


Penulis


A.    PENDAHULUAN
Budaya Islami setidaknya berkaitan dengan budaya yang diusung melalui syariat Islam sebagai pedoman yang digunakan. Budaya Islami di sekolah merupakan sebuah wacana yang sangat perlu untuk dikembangkan dan diberdayakan mengingat begitu banyak permasalahan hidup yang belum terselesaikan akibat belum kembalinya titik penyelesaian dengan cara-cara Islami.
Berkaitan dengan budaya Islami di sekolah tentunya ada pemeran-pemeran tertetu yang menjadi tonggak utama dalam pembentukannya. Perlunya pembahasan mengenai tonggak utama tersebut memberikan gambaran bahwa budaya Islami sangat dipengaruhi dengan segala yang ada/dilakukan oleh pihak tersebut. Secara tidak langsung pemenuhan terciptanya budaya Islami sangat berhubungan erat dengan keadaan pihak utama dalam pembentukan budaya di sekolah.
B.     ISI
Menurut Musa Asy’arie, kebudayaan merupakan proses sebagai eksistensi hidup manusia, kebudayaan adalah suatu kegiatan total diri manusia, yang meliputi akal yaitu pemikiran dan zikir serta kesatuannya dalam perbuatan.[1] Selain itu, budaya sekolah juga diartikan sebagai seperangkat norma, nilai, kepercayaan, ritual, seremoni, simbol, dan cerita yang meliputi seluruh person di sekolah. [2]
Sedangkan budaya sekolah sendiri merupakan transmisi secara sejarah, bentuk makna meliputi norma, nilai, kepercayaan, seremoni, ritual, tradisi, dan pemahaman mitos oleh anggota masyarakat sekolah.[3]
Adanya budaya sekolah sangat berpengaruh dengan hasil pendidikan. Budaya sekolah sangat berkaitan dengan perilaku sekolah yang akan timbul sebagai cerminan dari budaya tersebut. Budaya yang buruk akan melahirkan ekosistem pendidikan yang buruk, dan sebaliknya budaya yang baik akan melahirkan ekosistem pendidikan yang produktif dan efektif dalam pencapaian  tujuan.
Dengan adanya siklus timbal balik antara budaya dengan hasil pendidikan, maka sangat diperlukan adanya budaya sekolah yang matang, mengarahkan segala bentuk kegiatan yang tercermin dalam proses panjang pendidikan. Dalam buku Manajemen Pendidikan karya Prof. Dr. H. Muhaimin dan lainnya disebutkan bahwa sebenarnya budaya sekolah/madrasah merupakan sesuatu yang dibangun dari hasil pertemuan antara nilai-nilai (values) yang dianut oleh kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin dengan nilai-nilai yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang ada dalam sekolah/madrasah tersebut.[4] Hal tersebut mengindikasikan bahwa budaya sekolah yang baik dapat tercapai dari tonggak utama penciptaan nilai-nilai yaitu kepala sekolah.


C.    PEMBAHASAN
Budaya sekolah sebagai bagian dari budaya korporat memiliki beberapa ciri di antaranya adalah terdapat pemisahan kekayaan (antara milik indvidu/keluarga/kelompok dengan milik organisasi sebagai badan hukum), pemisahan tanggungjawab antara pemlik dan pelaksana, mengutamakan kepentingan pelanggan, bekerja dengan sistem, adanya pencatatan dan transparansi, adanya pertanggungjawaban, bergerak dengan strategi dan rencana kerja, serta adanya upaya regenerasi berkelanjutan.[5]
Nilai-nilai yang dianut di dalam sekolah/madrasah dibangun oleh pikian-pikiran manusia yang ada dalam sekolah/madrasah. Pertemuan pikiran-pikiran manusia tersebut kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan “pikiran organisasi”.(Kasali, 2006)
Mengenai pikiran organisasi tersebut penjelasan Muhaimin dan rekan-rekan bahwa sebelum sekolah atau madrasah memiliki kecukupan untuk menjadi unggul, maka paradigma berpikir orang-orang di sekolah/madrasah tersebut harus diubah terlebih dahulu untuk mampu mengimplementasikan berbagai nilai-nilai menuju keunggulana. Disinilah peran penting pemimpin dalam menuju keunggulan, yaitu mengubah paradigma beripikir orang-orang yang ada di sekolah/madrasah.[6]
Sedangkan alasan mengapa kewajiban pengubahan tersebut berada pada kepala sekolah karena kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki kecukuan wewenang dalam organisasi untuk melaksanakan perubahan dalam bentuk yang radikal seksalipun.[7] Kedekatan antara terbentuknya budaya sekolah/madrasah dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh kepala sekolah memberikan sebuah konsekuensi tersendiri bagi kepala sekolah atas semua keputusan yang diambil. Kepala sekolah harus memiliki komitmen yang kuat dalam menerapkan budaya sekolah. Seperti halnya pimpinan harus memiliki komitmen kuat menerapkan budaya organisasi, setelah itu baru dapat diinternalisasi kepada personil.[8]
Dalam sebuah riset internasional tentang karakteristik para pemimpin dunia yang sangat berhasil, dan hasil riset tersebut menunjukkan bahwa hampir semua karakter mereka adalah sama yaitu mengimplementasikan dengan sungguh-sungguh beberapa nilai yang menjadi akhlak Rasulullah SAW. (Agustian, 2007)
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya fenomena yang begitu menjamin kebenaran Islam dijadikan pedoman hidup, termasuk dalam pembentukan suatu budaya masyarakat sekolah. Hal ini berarti bahwa pemimpin/kepala sekolah yang dapat dipercayakan sebagai tonggak utama dalam ketercapaian budaya sekolah yang baik adalah kepala sekolah yang mampu menerapkan budaya Islami berdasar akhlak-akhlak Rasulullah SAW.
Penelitian yang dilakukan oleh Covey (2005), dalam surveynya terhadap 54.000 orang dan minta kepada mereka untuk menyebutkan kualitas pemimpin yang diinginkannya memberikan hasil secara berurutan sebagai berikut: (1) Integritas, (2) Komuniator, (3) Berorientasi ada manusia, (4) Visioer, (5) Peduli, (6) Pengambil Keputusan, (7) Penuh Dedikasi, (8) Panutan, (9) Motivator, (10) Ahli dan pemberani. Kesemua hal tersebut juga merupakan akhlak Rasulullah SAW.[9] Sebagai kepala sekolah tentunya dalam menciptakan budaya sekolah harus memperhatikan pengembangan karakter pribadinya. Semampu mungkin untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang terus berusaha agar memiliki standar kepemimpinan yang sesuai Rasulullah SAW.
Sedangkan dalam pelaksanaan penciptaan budaya Islami di sekolah, kepala sekolah harus mengimplementasikan nilai-nilai. Sebab nilai-nilai mempengaruhi cara bertindak seseorang. Apabila nila-nilai diimplementasikanoleh keseluruhan/sebagian besar orang-orang di organisasi, maka tentu akan mempengaruhi organisasi tersebut, termasuk produktivitas organisasi.[10]
Berikut gambar nilai-nilai prioritas sesuai dengan kondisi lingkungan dan fokus sekolah/madrasah yang dikutip dari buku karya Muhaimin dkk., Manajemen Pendidikan:
Internal Fokus Sekolah/Madrasah
Eksternal
Inovatif, Adaptif, Bekerja Keras, Dan Peduli Terhadap Orang Lain
Disiplin, Jujur, Sederhana Antara Orang Dan Bagian, Dan Berwawassan Luas
Internal
Inisiatif, Kebersamaan, Tanggung Jawab, Rasa Memiliki, Dan Komitmen Terhadap Lembaga
Kerja Sama, Saling Pengertian, Semangat Persatuan, Taat Asa, Memotivasi, Dan Membimbing


Labil
Stabil


 Kondisi Lingkungan
Gambar nilai-nilai prioritas sesuai dengan kondisi lingkungan dan fokus sekolah/madrasah
Setidaknya nilai-nilai tersebutlah yang harus dijadikan acuan yang dikembangkan dalam menciptkan budaya Islami di sekolah/madrasah.
Sebelum menerapkan semua nilai-nilai apa yang akan dikembangkan dalam budaya sekolah, tentunya kepala sekolah beserta jajaran pendidik harus menganalisa keadaan yang ada dalam sekolah/madrasah itu sendiri. Sehingga dapat lebih mudah untuk menyusun tujuan-tujuan dan langkah-langkah selanjutnya. Analisa tersebut dapat mengacu pada sistem SWOT (Strenght, Weekness, Opportunity and Threat) keadaan budaya yang ada.



D.    PENUTUP
Menciptakan budaya Islam di dalam sekolah merupakan peran besar bagi setiap pihak sekolah, namunpihak yang memiliki peran paling srategis yang mentukan berhasil atau tidaknya menciptakan budaya tersebut adalah kepala sekolah. sebab kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki kecukupan wewenang dalam organisasi untuk melaksanakan perubahan dalam bentuk yang radikal seksalipun.
Maka dari perlu adanya karakter kepala sekolah sebagai pemimpin yang berkarakter Islami seperti Rasulullah SAW. Dengan beberapa prioritas nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan kesehariannya sehingga internalisasi nilai-nilai budaya Islami di sekolah terhadap seluruh pihak sekolah dapat terwujud dengan sempurna.


DAFTAR PUSTAKA
Asyarie, Musa.1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: LESFI.
Mangkumanegara, Anwar. (2005). Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Refika Aditama.
Muhaimin, dkk. (2009). Manajemen Pendidikan Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta: KENCANAPRENADA MEDIA GROUP.

 Diajukan Untuk Memenuhi UK II Mata Kuliah Budayadan Tata Manajerial Kependidkian Semester IV
Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta





[1] Musa Asy’arie, 1992,  Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: LESFI, hal. 98
[2] Peterson, D, Kent, at issue Culture: Positive or Negative. National Staff Development Council: JSD Summer, 2002
[3] Stephen Stolp , Leadership for School Culture. ERIC Clearinghouse on Educational
[4] Muhaimin, hal. 50
[5] Muhaimin, hal. 47
[6] Muhaimin, hal. 52
[7] Muhaimin, hal. 52
[8] Anwar Prabu Mangkunegara, hal.118
[9] Muhaimin, hal.50
[10] Muhaimin, hal. 53

0 comments :

Post a Comment