Review Kitab Tafsir Al-Qur’an Karya M.Quraish Shihab
Judul : TAFSIR Al-Qur’an
Al-Karim, Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan
Urutan Turunnya Wahyu
Penulis : Prof. Dr. Muhammad
Quraish Shihab
Penerbit : PUSTAKA HIDAYAH
Tahun
Terbit : 1997
Kota
Terbit : Bandung
Jumlah
Halaman : 888 halaman
Judul kitab tafsir karya M. Quraish Shihab yang diangkat adalah
sesuai dengan tema pembahasan dalam kitab tafsir ini, yaitu fokus pada
penguraian surat-surat pendek pada juz 30 Al-Qur’an dan terdapat 24 surat
pendek yang dibahas di dalamnya. Sedangkan pembahasan diuraikan berurutan dari
surat pendek yang lebih awal turun. Dari surat Al-Fatihah, surat Al-‘Alaq,
surat Al-Muzzammil, surat Al-Muddatstsir, surat Al-Lahab, surat At-Takwir,
surat Al-A’la, surat Asy-Syarh, surat Al-‘Ashr, surat Adh-Dhuha, surat
Al-‘Adiyat, surat Al-Kautsar, surat At-Takatsur, surat Al-Ma’un, surat
Al-Kafirun, surat Al-Fil, surat Al-ikhlash, surat Al-Falaq, surat An-Nas, surat
Al-Qadr, surat At-Tin, Surat Al-Humazah, surat al-Balad, dan yang terakhir
surat Ath-Thariq.
Memang tidak semua surat dalam juz 30 diangkat dalam pembahasan. Sedangkan
tidak diangkatnya beberapa surat lain dalam juz 30 pada kitab ini penulis
memiliki dua alasan seperti yang telah dikemukakan, yaitu “dalam memilih urut-urutan
surah yang diuraikan, penulis berupaya untuk mendasarkannya pada perurutan masa
turun surah-surah tersebut, sehingga pembaca dapat melihat bagaimana runtutan
petunjuk Ilahi yang diberikan kepada Nabi saw. dan ummatnya. Menguraikan tafsir
Al-Qur’an berdasarkan runtutan surah-surah dalam mush-haf sering
menimbulkan pengulangan-pengulangan jika kosakata atau kandungan pesan ayat dan
surahnya sama (mirip) dengan ayat dan surah yang telah ditafsirkan. Menurut
hemat penulis, hal ini mengakibatkan diperlukannya waktu yang cukup banyak untuk
memahami dan mempelajari Kitab Suci. Karena itu, memaparkan makna kosakata
sebanyak mungkin, serta kaidah-kaidah tafsir yang dapat digunakan untuk
memahami ayat-ayat yang tidak ditafsirkan mutlak diperlukan. Untuk itu,
pertimbangan kedua yang penulis tempuh – dalam pemilihan surah-surah dalam buku
ini- didasarkan pula pada banyaknya kaidah-kaidah tafsir yang dapat ditarik
dari Al-Qur’an maupun dari disiplin ilmu Al-Qur’an, dan banyaknya kosakata
penting yang dikandung oleh surah-surah tertentu. Di sisi lain, tentu saja
pertimbangan yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa surah yang dipilih
mengandung uraian yang berkaitan dengan kehidupan beragama, bermasyarakat dan
berbangsa serta banyak dibaca oleh umat. Kedua pertimbangan terakhir itu
mengakibatkan beberapa surah dalam urutan turun terpaksa belum tersajikan dalam
buku ini.” (hal vii)
Metode yang digunakan oleh M.Quraish Shihab di dalam menafsirkan
surat-surat pendek tersebut adalah dengan banyak merujuk pada Al-Qur’an dan
Sunnah serta dengan metode tahliliy (mengurai) yang menafsirkan
ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya, ayat demi ayat, sebagaimana
urutannya dalam mush-haf Al-Qur’an. Salah satu corak tafsir tahliliy
adalah tafsir bi al-ma’tsur “di mana sang mufassir mengandalkan
penjelasan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. untuk menyajikan pesan-pesan Kitab
Suci ini” (hal. vii). Sebagai contoh pembahasan dalam surat Al-Fatihah ayat
pertama, M.Quraish Shihab melengkapinya dengan penyebutan ayat 23 surat ke-25
Al-Qur’an tentang karya-karya besar dan baik yang dilakukan oleh orang kafir
tetapi tidak dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah. Selain itu, beliau juga
memaparkan penjelasan dengan hadits Nabi mengenai pentingnya basmalah di awal
kegiatan yang dilakukan. Begitu pula dalam menjelaskan kata ‘alamin pada ayat
berikutnya, beliau menggunakan ayat 8 surat ke-16 Al-Qur’an.
Dalam penafsiran surat-surat yang diangkat, M.Quraish Shihab juga
banyak memaparkan pendapat ‘ulama-‘ulama lain dalam mendukung penjelasan
beliau. Tidak semerta-merta menggunakan pandangan pemikirannya saja. Hal ini
juga memberikan keterkuatan pamahaman pembaca untuk lebih dalam mempelajari
kitab tafsir ini.
Mungkin begitu banyak pandangan-pandangan mengenai ilmu Al-Qur’an
yang sulit dicerna dan tidak menarik. Bahasanya kaku dan sulit merasuk ke dalam
hati. Belum lagi ketika melihat ketebalan kitab-kitab tafsir yang sudah
memberikan rona kejenuhan untuk menyelesaikan pembacaannya. Pandangan-pandangan
itu semua seakan-akan jauh dari kriteria yang didapat dari kitab tafsir ini.
Dua hal yang turut menonjol adalah pada segi gaya penyampaian isi dan segi
bahasa yang digunakan.
Kitab ini begitu lengkap, menyuguhkan berbagai unsur pandangan yang
dapat dipadukan dan melahirkan suatu kepahaman yang cukup komprehensif.
Dikuatkan dengan penjelasan dan penguraian dengan memaparkan ayat-ayat lain
yang berhubungan. Banyak ditemukan hadits-hadits penguat penjelasan pula.
Selain itu kitab ini dilengkapi dengan berbagai pendapat ‘ulama-‘ulama lain.
Pemilihan bahasa cukup ringan, tidak membuat berat pembaca, yang
menuntun pemahaman dengan hati. Tiap-tiap kalimat yang digunakan begitu mudah
untuk dipahami dan dicerna, karena beliau mampu melakukan pemilihan kata dengan
cukup cantik. Berbagai pembahasan ayat-ayat yang dirasakan berat sebelumnya,
beliau menggiringnya dengan aroma-aroma kemudahan yang menggugah.
Melalui kitab ini, pembaca bukan hanya kaan mendapatkan ilmu dalam
mengetahui maksud-maksud yang terkandung dalam Al-Qur’an, akan tetapi pembaca juga
akan mendapatkan sebuah dorongan untuk berkarya. Berkarya dalam kehidupan yang
dianugerahkan Allah untuktiap-tiap diri manusia yang tercipta. Melalui uraian
surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, muncul sebuah pemahaman yang
tidak sempit terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Kisah-kisah yang ada dalam surat,
tata aturan, larangan maupun perintah, dapat disuguhkan dan kemudian dihadirkan
dengan begitu indah. Kitab ini secara sadar ataupun tak sadar telah membuat
titik-titik yang menyusun keyakinan pada setiap pembaca bahwa Al-Qur’an adalah
benar-benar salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan ini. Penulis mampu
menerobos pemikiran dan paradigma para pembaca untuk menunjukkan sebuah nilai
“inilah kitab Al-Qur’an yang mulia”.
(Oleh: Latifatul Fajriyah-20130720090, PAI-B
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)

0 comments :
Post a Comment