ditulis oleh: Latifatul Fajriyah
Untuk ‘Rara’
di Semarang
Alhamdulillaah aku baik, lebih baik kalau dibandingkan pas masih di Jawa (soale di sini tak ada tuh pendebat yang mengalahkanku plus tak ada
yang tiba-tiba super manut tanpa tau alasan seperti kalian_red kau.n.Yusi). Tapi tak enaknya tuh di sini sulit mikir, makanan apa yang pengin
aku makan pas sore. Kan biasanya udah ada yang ngirimin jajanan pasar khas Jawa tiap
sore kalau di sana (jangan jd gedhe, pliiiisss tahan kepalamu). Kalau kamu tanya ada apa aja di sini, waa kamu
mesti langsung terbang ke JGJ. E bentar, untuk
menghindari perdebatan di antara kita, saya akan memaparkan tentang apa itu JGJ
kepada anda. Ehm. JGJ-Jogja Getaran Jiwa. Bukan karena dingin lho.. tapi karena
seperti yang ku bilang dulu, Jogja itu tempat yang membuatku terpana.. hehe
clirap-clirap. InTheNextTime aja lah soal JGJnya.
Langsung ke permasalahanmu. Kuliahmu itu ya? Yang katamu ga ada
enaknya? Ok. Kita mulai. Pertama, dosen. Dosen itu mungin baru nguji kamu
sobat. Bertahanlah seperti kata beliau. Kedua, tempat. Dulu kan kamu uda milih
tempat itu buat kamu ngekos di sana plus katanya kamu ga suka ngasrama. Tinggal
nunggu proses kau merubah sikap-sikap mereka kan? Keep fight! Ketiga,
organisasi. Buktikan aja kamu pasti bisa memberikan kontribusimu yang super
hebat ke organisasimu tanpa harus meninggalkan amanah
yang sedang kamu jalani ini. Menurutku misi dakwahmu kali ini hebat sobat. Ga
akan kudebat. Buktikan ke semua pengurus bahwa kamu mantap dengan misimu itu,
tidak main-main, akan menjadi nyata, en tidak
akan mengganggu jati dirimu. Buktikan bahwa
Rara yang suka batagor bisa bikin dunia ngebor!
Maksudnya bisa bikin Jogja pindah ke Bogor. Ups. Bisa bikin karya
gitu lhoh. Hubungi staff2 bidangmu soal program apa yang uda kamu rencaYusin
sama mereka. Inget trus kamu hubungi mereka tanpa putus, mereka masi awal-awal
masuk.. Jangan tinggalkan mereka. Intinya fighting
fighting fighting plus yakin. Gitu Ra. Bertahan di
Semarang. Bertahan di organisasimu. Bertahan.
Terus…Emm ak jadi lupa pertanyaanmu yang laen..
Oya, soal kirimanmu ke aku waktu lebaran kemaren, nampaknya pak pos
masih bingung 1alamat rumahku kali ya. E tapi bukane
pak pos uda pernah nyampein suratmu waktu itu ya? Ya yang intinya kirimanmu
belum ane trima .titik. Jangan-jangan dalemnya buku-buku lagi ya? Wah
kakehen_kebanyakan buku darimu aku. Mesti tulisannya berton-ton alias bereeet
bereeet. Yah kalo gitu aku berharap kirimannya biar datang ke rumahe pak pos
ajalah, sekali-kali “rasan” tuh seberat apa buku-bukumu. Ato jangan-jangan dalemnya batagor yak? Wa
asiik mumpung lagi laper nih! J
Uda ya Ra, smoga manteb dengan jawabanku itu,
hehe. Tak tunggu wis kirimanmu itu. Oya, jangan lupa semboyan kita untuk tidak
menjadikan hal kecil sebagai sesuatu yang sangat perlu untuk digalaukan. Ehm laen kali lewat e-mail napa? Jauh aku kalo
ke kantor pos, belum lagi nulis-nulisnya. Ok? E-mail. Serius sob.
Yang
selalu nunggu batagormu,
Lala
___------___
Tak
ada yang istimewa dalam penampilan Rara
waktu itu. Hanya kaki yang terlindungi dengan sandal tipis buatan sepupunya itu
yang ia pakai bersamaan dengan pakaian yang lebih biasa ia keYusi. Dalam
hatinya ia agak khawatir dengan kekuatan sandal itu, berapa lama bisa bertahan
untuk tidak putus. Maklum pada bagian jemarinya hanya di beri seutas tali rafia
yang dikepang kesana-kemari.
Lelah
sebenarnya ia meneruskan perjalanan. Apalagi Yusi terus menggelayuti tangannya pertanda Yusi sangat lelah pula. Hembusan
nafas panasnya tak terlihat santai. Tatapan matanya hanya mengarah pada tanah
kering yang ada di sepanjang perjalanan.
Sedangkan
aku, dengan kedua teman yang lainnya
melangkah di belakang mereka berdua. Tak ada pertanda wajah-wajah kusam. Toh
kita bertiga melewati jalan dengan terus bercerita yang menegangkan. Jadi lupa
kalau sebenarnya hari itu panas sekali. Sesekali Tata yang sebagai pencerita
meledakkan kata-kata yang membuat Rara dan Yusi sejenak menengok ke belakang.
Ditambah dengan raut mukanya yang begitu serius sekali. Namun sesekali kita
bertiga tertawa kecil saat mendengar lelucon Arena di tengah-tengah perasaan
yang sesaat demi sesaat menakutkan. Ekspresinya membawa kami pada dunia tawa.
Hari
itu, selasa 20 Juni di tahun pertama kami menjabat sebagai pengurus Osis SMK
kesayangan.
Dengan program kerja dari bidang Arena di dalam masa perekrutan anggota. Kami menyusuri sepanjang jalan Sukorejo
untuk survey tempat yang akan diagendakan dalam pencarian kader-kader militan
bulan itu. Yah setidaknya kami bisa rihlah, sejenak meninggalkan dunia super
sibuk sekolah kami. Waktu itu bersamaan dengan persiapan kenaikan kelas tiga.
Tak seperti Na’im yang tak muncul
hari itu. Kakak perempuannya berangkat meneruskan studinya ke Negeri Jiran.
Yup, dia
ngantar ke
bandara.
Sedangkan kawan-kawan yang lain
sudah mendapat jatah kerja yang lain. Tinggal kami berlima yang mau tidak mau
melakukan itu, kalau kata Yusi meyakinkan kami sebelum berangkat dengan katanya
yang diucapkan dengan mantab: “ini amanah!”.
Hampir dua kilo meter kami
menjejaki tanah-tanah kering, dikelilingi pula dengan rerumputan kering di
sepanjang jalan. Cukup terjal dan sesekali jalan menampakkan kecuramannya. Lama-lama
aku dan kedua temanku yang berjalan di belakang tak tahan juga untuk tidak
merasa panas. Drama cerita horor dan komedi yang kami buat-buat memang tidak
sanggup menghadapi perlawanan sengit dengan keadaan alam yang ada. Suasana yang
panas kala itu menjadi pemenang. Di langit-langit gerahamku sendiri serasa
mendidih serumpun dengan mendidihnya langit-langit berlapis di atas awan siang.
Bebatuan seakan melambangkan sesunyian yang terpampang di areal ladang super
lebar itu.
Sesampainya kami di ujung rute
perjalanan, sesegera mungkin Yusi mengambil langkah tersigap bak prajurit
perang yang pantang takut mengambil senapan di tangan penjajah. Segera dia
mengeluarkan amunisi-amunisi dari dalam tasnya. Ada yang digoreng dengan telur
berbumbu khas Umi-nya, ada yang direbus dengan setumpuk gula dan ada pula yang
bergelimang parutan kelapa muda di atasnya. Hehe, ya begitulah amunisi si Yusi,
food box nya. Bahkan ada satu potong kue yang membuat kami cukup kenyang dengan
hanya melihatnya. Ketika mata kami melirik dan kemudian mengidentifikasi jenis
kue itu, duuaarrrr! Isi dalam perut terasa ingin mengalir keluar membasahi kue
itu. Ya bagaimana pun seorang manusia yang buram penglihatannya juga pasti akan
tahu dari aroma khas yang dihasilkan kue itu. Jelaslah, namanya saja kue
jengkol pedas. Arena yang suka pedas sekalipun tak berkenan melihat untuk kedua
kalinya.
Sejenak, gema senja mulai
mengalun merdu membuai hati-hati kami untuk merayukan nyanyian “tak usah
pulang, mending di sini aja!”. Bukit itu membuatku damai. Selaksa
pemandangannya memberikan batasan antara aku dengan kegalauan-kegalauan yang
sedang mampir di hari-hari itu.
Hari-hari ketika tiba-tiba
Rara mendiamkanku, bahkan hingga perjalanan survey tempat itu. Rara tak
berbicara sepatah katapun denganku ketika semua pendapat anggota pengurus harus
dikeluarkan satu-persatu. Ketika giliranku berpendapat, tak ada tanggapan
sedikitpun yang keluar darinya. Padahal semua pendapat teman-teman waktu itu
pasti didebatnya. Apa iya, karena pendapatku tidak masuk akal? Ya memang aku
mengeluarkan pendapat yang teranalogi pada permasalahan lain yang berbeda
konteks sih, sedikit kok keluarnya, namun hal itu pasti sudah didebat Rara.
Sebab berdasar pengalaman sejak mengenalnya, pasti semua apa yang aku katakan
tidak sepenuhnya ia terima dengan mudah, harus melalui suatu proses perebusan
yang panjang dan membara.
Yah, kegalauan itu
berhari-hari membungkam sikapku. Aku jadi kikuk dan serba salah. Tapi sore di
bukit itu, kekikukanku dan keserbasalahanku serasa meledak dan hancur.
Mega-mega yang melayang di atas awan seperti hinggap ke gelapnya hatiku waktu
itu dan memberikan warna hijau cerah yang mendamaikan dan memberi semangat.
Terbersit kemudian sekelebat ide untuk mengatasi semua yang terjadi antara aku
dan Rara, Sekretaris OSIS itu.
___------___
Sepulangnya aku dari survey tempat, aku tak memiliki pikiran panjang untuk
menunda-nunda menikmati bantal empukku. Segala yang terjadi sore itu membuatku
lelah, lelah sekali sebenarnya. Baru mataku memejam berusaha merenda pulau
mimpi nan penuh harap, detak jantungku tiba-tiba seakan memukul genderang
ingatanku tentang Rara. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu menjauhi aku.
Kuputuskan untuk mengambil handphone di dalam tas. Kucoba merangkai kata
demi kata. Meniupkan angin perubahan pada diri Rara, (itu harapanku, yang
semoga dengan aku mengirim sms permohonan maaf semuanya akan merubah sikap Rara).
“salam, langit memerah pun tak
dapat membuat semuanya jelas ttg smua yg trjdi bbrpa hri ini. Pun salahku, aku
mhn maf.”
“ ternyata kau juga belum
bisa mengerti!” (kalimat singkat jawaban dari Rara)
_bersambung

0 comments :
Post a Comment