Pages

Wednesday, 6 May 2015

Kristal Rara









ditulis oleh: Latifatul Fajriyah


Untuk ‘Rara
di Semarang
Alhamdulillaah aku baik, lebih baik kalau dibandingkan pas masih di Jawa (soale di sini tak ada tuh pendebat yang mengalahkanku plus tak ada yang tiba-tiba super manut tanpa tau alasan seperti kalian_red kau.n.Yusi). Tapi tak enaknya tuh di sini sulit mikir, makanan apa yang pengin aku makan pas sore. Kan biasanya udah ada yang ngirimin jajanan pasar khas Jawa tiap sore kalau di sana (jangan jd gedhe, pliiiisss tahan kepalamu). Kalau kamu tanya ada apa aja di sini, waa kamu mesti langsung terbang ke JGJ. E bentar, untuk menghindari perdebatan di antara kita, saya akan memaparkan tentang apa itu JGJ kepada anda. Ehm. JGJ-Jogja Getaran Jiwa. Bukan karena dingin lho.. tapi karena seperti yang ku bilang dulu, Jogja itu tempat yang membuatku terpana.. hehe clirap-clirap. InTheNextTime aja lah soal JGJnya.
Langsung ke permasalahanmu. Kuliahmu itu ya? Yang katamu ga ada enaknya? Ok. Kita mulai. Pertama, dosen. Dosen itu mungin baru nguji kamu sobat. Bertahanlah seperti kata beliau. Kedua, tempat. Dulu kan kamu uda milih tempat itu buat kamu ngekos di sana plus katanya kamu ga suka ngasrama. Tinggal nunggu proses kau merubah sikap-sikap mereka kan? Keep fight! Ketiga, organisasi. Buktikan aja kamu pasti bisa memberikan kontribusimu yang super hebat ke organisasimu tanpa harus meninggalkan amanah yang sedang kamu jalani ini. Menurutku misi dakwahmu kali ini hebat sobat. Ga akan kudebat. Buktikan ke semua pengurus bahwa kamu mantap dengan misimu itu, tidak main-main, akan menjadi nyata,  en tidak akan mengganggu jati dirimu. Buktikan bahwa Rara yang suka batagor bisa bikin dunia ngebor! Maksudnya bisa bikin Jogja pindah ke Bogor. Ups. Bisa bikin karya gitu lhoh. Hubungi staff2 bidangmu soal program apa yang uda kamu rencaYusin sama mereka. Inget trus kamu hubungi mereka tanpa putus, mereka masi awal-awal masuk.. Jangan tinggalkan mereka. Intinya fighting fighting fighting plus yakin. Gitu Ra. Bertahan di Semarang. Bertahan di organisasimu. Bertahan.
Terus…Emm ak jadi lupa pertanyaanmu yang laen..
Oya, soal kirimanmu ke aku waktu lebaran kemaren, nampaknya pak pos masih bingung 1alamat rumahku kali ya. E tapi bukane pak pos uda pernah nyampein suratmu waktu itu ya? Ya yang intinya kirimanmu belum ane trima .titik. Jangan-jangan dalemnya buku-buku lagi ya? Wah kakehen_kebanyakan buku darimu aku. Mesti tulisannya berton-ton alias bereeet bereeet. Yah kalo gitu aku berharap kirimannya biar datang ke rumahe pak pos ajalah, sekali-kali “rasan” tuh seberat apa buku-bukumu. Ato jangan-jangan dalemnya batagor yak? Wa asiik mumpung lagi laper nih! J
Uda ya Ra, smoga manteb dengan jawabanku itu, hehe. Tak tunggu wis kirimanmu itu. Oya, jangan lupa semboyan kita untuk tidak menjadikan hal kecil sebagai sesuatu yang sangat perlu untuk digalaukan. Ehm laen kali lewat e-mail napa? Jauh aku kalo ke kantor pos, belum lagi nulis-nulisnya. Ok? E-mail. Serius sob.

                                                       Yang selalu nunggu batagormu,
Lala

___------___
Tak ada yang istimewa dalam penampilan Rara waktu itu. Hanya kaki yang terlindungi dengan sandal tipis buatan sepupunya itu yang ia pakai bersamaan dengan pakaian yang lebih biasa ia keYusi. Dalam hatinya ia agak khawatir dengan kekuatan sandal itu, berapa lama bisa bertahan untuk tidak putus. Maklum pada bagian jemarinya hanya di beri seutas tali rafia yang dikepang kesana-kemari.
Lelah sebenarnya ia meneruskan perjalanan. Apalagi Yusi terus menggelayuti tangannya pertanda Yusi sangat lelah pula. Hembusan nafas panasnya tak terlihat santai. Tatapan matanya hanya mengarah pada tanah kering yang ada di sepanjang perjalanan.
Sedangkan aku, dengan kedua teman yang lainnya melangkah di belakang mereka berdua. Tak ada pertanda wajah-wajah kusam. Toh kita bertiga melewati jalan dengan terus bercerita yang menegangkan. Jadi lupa kalau sebenarnya hari itu panas sekali. Sesekali Tata yang sebagai pencerita meledakkan kata-kata yang membuat Rara dan Yusi sejenak menengok ke belakang. Ditambah dengan raut mukanya yang begitu serius sekali. Namun sesekali kita bertiga tertawa kecil saat mendengar lelucon Arena di tengah-tengah perasaan yang sesaat demi sesaat menakutkan. Ekspresinya membawa kami pada dunia tawa.
Hari itu, selasa 20 Juni di tahun pertama kami menjabat sebagai pengurus Osis SMK kesayangan. Dengan program kerja dari bidang Arena di dalam masa perekrutan anggota. Kami menyusuri sepanjang jalan Sukorejo untuk survey tempat yang akan diagendakan dalam pencarian kader-kader militan bulan itu. Yah setidaknya kami bisa rihlah, sejenak meninggalkan dunia super sibuk sekolah kami. Waktu itu bersamaan dengan persiapan kenaikan kelas tiga.
            Tak seperti Na’im yang tak muncul hari itu. Kakak perempuannya berangkat meneruskan studinya ke Negeri Jiran. Yup, dia ngantar ke bandara.
            Sedangkan kawan-kawan yang lain sudah mendapat jatah kerja yang lain. Tinggal kami berlima yang mau tidak mau melakukan itu, kalau kata Yusi meyakinkan kami sebelum berangkat dengan katanya yang diucapkan dengan mantab: “ini amanah!”.
            Hampir dua kilo meter kami menjejaki tanah-tanah kering, dikelilingi pula dengan rerumputan kering di sepanjang jalan. Cukup terjal dan sesekali jalan menampakkan kecuramannya. Lama-lama aku dan kedua temanku yang berjalan di belakang tak tahan juga untuk tidak merasa panas. Drama cerita horor dan komedi yang kami buat-buat memang tidak sanggup menghadapi perlawanan sengit dengan keadaan alam yang ada. Suasana yang panas kala itu menjadi pemenang. Di langit-langit gerahamku sendiri serasa mendidih serumpun dengan mendidihnya langit-langit berlapis di atas awan siang. Bebatuan seakan melambangkan sesunyian yang terpampang di areal ladang super lebar itu.
            Sesampainya kami di ujung rute perjalanan, sesegera mungkin Yusi mengambil langkah tersigap bak prajurit perang yang pantang takut mengambil senapan di tangan penjajah. Segera dia mengeluarkan amunisi-amunisi dari dalam tasnya. Ada yang digoreng dengan telur berbumbu khas Umi-nya, ada yang direbus dengan setumpuk gula dan ada pula yang bergelimang parutan kelapa muda di atasnya. Hehe, ya begitulah amunisi si Yusi, food box nya. Bahkan ada satu potong kue yang membuat kami cukup kenyang dengan hanya melihatnya. Ketika mata kami melirik dan kemudian mengidentifikasi jenis kue itu, duuaarrrr! Isi dalam perut terasa ingin mengalir keluar membasahi kue itu. Ya bagaimana pun seorang manusia yang buram penglihatannya juga pasti akan tahu dari aroma khas yang dihasilkan kue itu. Jelaslah, namanya saja kue jengkol pedas. Arena yang suka pedas sekalipun tak berkenan melihat untuk kedua kalinya.
            Sejenak, gema senja mulai mengalun merdu membuai hati-hati kami untuk merayukan nyanyian “tak usah pulang, mending di sini aja!”. Bukit itu membuatku damai. Selaksa pemandangannya memberikan batasan antara aku dengan kegalauan-kegalauan yang sedang mampir di hari-hari itu.
            Hari-hari ketika tiba-tiba Rara mendiamkanku, bahkan hingga perjalanan survey tempat itu. Rara tak berbicara sepatah katapun denganku ketika semua pendapat anggota pengurus harus dikeluarkan satu-persatu. Ketika giliranku berpendapat, tak ada tanggapan sedikitpun yang keluar darinya. Padahal semua pendapat teman-teman waktu itu pasti didebatnya. Apa iya, karena pendapatku tidak masuk akal? Ya memang aku mengeluarkan pendapat yang teranalogi pada permasalahan lain yang berbeda konteks sih, sedikit kok keluarnya, namun hal itu pasti sudah didebat Rara. Sebab berdasar pengalaman sejak mengenalnya, pasti semua apa yang aku katakan tidak sepenuhnya ia terima dengan mudah, harus melalui suatu proses perebusan yang panjang dan membara.
            Yah, kegalauan itu berhari-hari membungkam sikapku. Aku jadi kikuk dan serba salah. Tapi sore di bukit itu, kekikukanku dan keserbasalahanku serasa meledak dan hancur. Mega-mega yang melayang di atas awan seperti hinggap ke gelapnya hatiku waktu itu dan memberikan warna hijau cerah yang mendamaikan dan memberi semangat. Terbersit kemudian sekelebat ide untuk mengatasi semua yang terjadi antara aku dan Rara, Sekretaris OSIS itu.
___------___
Sepulangnya aku dari survey tempat, aku tak memiliki pikiran panjang untuk menunda-nunda menikmati bantal empukku. Segala yang terjadi sore itu membuatku lelah, lelah sekali sebenarnya. Baru mataku memejam berusaha merenda pulau mimpi nan penuh harap, detak jantungku tiba-tiba seakan memukul genderang ingatanku tentang Rara. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu menjauhi aku.
Kuputuskan untuk mengambil handphone di dalam tas. Kucoba merangkai kata demi kata. Meniupkan angin perubahan pada diri Rara, (itu harapanku, yang semoga dengan aku mengirim sms permohonan maaf semuanya akan merubah sikap Rara).
            salam, langit memerah pun tak dapat membuat semuanya jelas ttg smua yg trjdi bbrpa hri ini. Pun salahku, aku mhn maf.”
            “ ternyata kau juga belum bisa mengerti!” (kalimat singkat jawaban dari Rara)


_bersambung

0 comments :

Post a Comment