Pages

Thursday, 7 May 2015

Menemukan Cinta-Nya Melalui Cintamu


Cerpen oleh: Azizatul Ulfa

Sayup perlahan aku dengar suara angin, membisik dari daun jendela. Lama sudah penantian ini aku rasakan, namun hadir dirimu yang selalu aku nantikan tak kunjung dalam peraduan.
 November tahun lalu, saat itu masa-masa yang indah. Pertemanan kita selama tiga tahun ternyata menyimpan sebuah rahasia didalam bilik hatimu. Suatu ketika tanpa kusangka engkau mengungkapkan rasa yang membuat hati ini bergetar. Hatiku mulai perlahan terbuka dan menyambutmu.  Lima bulan berselang dan semuanya terasa indah. Tapi seketika semua itu berubah sirna. Kudengar engkau mulai menulis skripsi. Aku pikir mungkin engkau sedang sibuk. Semua massage yang aku kirim kepadamu seolah hanya debu yang tak pernah terlihat oleh mu. Pernah tak sengaja aku berpapasan denganmu, namun kau balikkan muka tanpa sepatah kata. Tubuh ini terasa remuk tak bertuan. Mungkin kau anggap aku hanya seonggok sampah yang menjijikkan. Sakit terasa menimpa tanpa tahu penyebabnya.
Hari ini tepat satu tahun kata-kata itu engkau ucap. 15 November 15.30 WIB, tepat disaat hari kelahiranku kau membawakanku setangkai mawar merah. Mata yang sayu dan senyum kecil menyemburat di kedua pipimu. Menyatakan cinta dengan penuh harapan. Tetapi apalah daya, mata sayu itu kini pudar. Satu tahun yang lalu tidak seperti hari ini yang kelam. Wajahmu hanya tergambar dalam kenangan.
Aku berhenti melamun. Aku duduk didepan meja belajar kos yang usang ditemani sebuah radio yang memutar lagu lama Broeri romantika ‘Widuri’. Suasana hati ini semakin menjadi saja. Aku membuka laptop dan mencoba mencari sebuah kesibukan untuk melupakan pikiranku yang kacau. Laptop kucrit ini setidaknya menjadi teman paling setia saat ini.
Aku mulai membuka e-mail. Aku lihat satu kotak masuk belum terbaca. Aku membukanya perlahan. Tertulis nama pengirim email dalam headline; ARI PRASETYA TAMA. Deg, jantung ini berdegup kencang. Aku tidak berani membuka pesan itu. Otak ini bertanya, mungkinkah engkau yang mengirim pesan ini, ataukah orang lain yang sedang membajak emailmu? Dari 560 pesan yang telah aku kirim, satupun tidak ada yang engkau balas. Aku takut pesanmu kali ini adalah umpatan ataupun ungkapan kejengkelan yang kau sembunyikan selama ini. Aku biarkan laptop ini menyala tanpa sedikitpun menyentuh pesan itu. Aku duduk diatas ranjang dan memulai membaringkan tubuhku. Tak terasa tubuhku terlelap hingga adzan subuh membangunkanku.
Aku berangkat kekampus, aku sudah tidak ada kelas kuliah. Tinggal menunggu detik-detik wisuda sarjana bulan Desember. Setelah itu pulang kekampung halaman mengabdikan semua ilmu yang telah aku dapat. Rasanya seperti mimpi saja, empat tahun terasa seperti empat minggu. Dua puluh hari kedepan adalah sisa waktu yang harus aku manfaatkan untuk menyusuri kenangan yang ada di kampus ini. Mengucapkan selamat tinggal dan do’a kepada teman-teman satu angkatan. Wisuda pasti akan menjadi memori tersendiri.
Aku pulang ke kos. Aku lihat laptopku masih menyala. Aku duduk dan mulai bergeming lagi. Aku memberanikan diri untuk membuka pesan darimu. Pesan itu singkat, namun membuat air mata ini tak berhenti berderai;
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Salam ukhuwah saya sampaikan kepada anti, sahabatku.
Afwan, sebait pesan ini tidak dapat menjawab pertanyaan anti di pesan-pesan sebelumnya. Dengan datangnya pesan ini saya bermaksud menyampaikan keinginan bahwa saya dan kedua orang tua ingin bersilaturahim kerumah anti pada hari yang bersamaan dengan wisuda bulan Desember. Saya bermaksud meminang anti sebagai istri saya. Mohon istikharah anti. Balasan anti saya tunggu. Jazakillah khoir
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Aku seperti tidak mengenal gaya bahasa ini. Ini bukan engkau yang dulu. Kata- kata baku dan bahasa arab engkau campurkan dengan permintaanmu yang tegas. Dadaku semakin sesak. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Seolah pesan ini memecahkan semua keraguan yang ada dalam hatiku. Aku semakin tidak mengerti apa maksudmu. Rasa sedih dan haru berpadu menjadi satu. Mungkin Allah telah membukakan pintu hatimu utukku.
Dering handpone sesaat mengagetkanku. Tak biasanya Ibu menelepon sore begini. Tak banyak yang dikatakan Ibu. Beliau hanya mengabarkan bahwa salah satu temanku yang bernama Ari baru saja menelepon ke rumah dan menyampaikan maksudnya kepada Ibu. Ibu menyerahkan semua keputusan kepadaku. Robbi, kenapa semua ini harus ku alami?
Tiga hari ini aku masih saja terdiam. Sholat istikharah memantapkanku untuk membalas pesan darimu. Perlahan aku mulai menulis;
Sudah ku baca pesan darimu sejak tiga hari yang lalu, aku juga telah melakukan sholat istikharah seperti yang engkau minta. Meski aku tak terlalu mengerti bagaimana dirimu yang sekarang, aku yakin saja kamu tetap yang dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bisakah kau menjelaskan mengapa kau melakukan semua ini padaku? tentunya banyak alasan dibalik sebuah peristiwa.

Email terkirim dan beberapa saat kemudian muncul jawaban;
Alhamdulillah, saya panjatkan kepada Allah yangtelah memberi kesempatan kepada saya untuk bertaubat dan mengambil jalan yang di Ridhoi-Nya. Saya tahu yang anti tanyakan diatas adalah mengenai perilaku saya sejak satu tahun yang lalu hingga hari ini. Sebelumnya maafkan saya jika penjelasan saya nanti akan menyakiti anti.
Dahulu saya masih jahiliyah, mengajak anti pacaran hingga membawa anti kedalam perasaan yang tidak semestinya. Perlahan saya belajar dari seorang ustadz di komplek kos saya. Beliau menjelaskan bahwa pacaran itu dibenci Allah. Itu bukan ajaran Rasul. Semenjak saat itu saya bertaubat dan lebih memperdalam ilmu agama. Saya memutuskan berhenti dari maksiat. Saya membunuh cinta saya selain kepada-Nya. Banyak hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Ilmu yang saya dapat menjadikan saya lebih bijak dalam melangkah. Ribuan berkah Allah tidak terduga. Sekarang saya datang kembali kepada anti tidak dengan membawa cinta saya. Tetapi saya datang kepada anti dengan membawa cinta Allah untuk mengajak anti menyempurnakan separuh agama. Mengajak anti kepada cinta yang halal dalam ikatan pernikahan insyaAllah. Semoga anti dapat mengerti.

Ya Allah, aku merasa hina dihadapan-Mu. Orang yang kau kirimkan kepadaku bukanlah yang aku kenal dahulu. Tetapi dia menjadi lebih baik dari yang aku kira. Sedangkan aku masih dengan diriku yang selalu melupakanmu. Jika memang ini adalah jalanku untuk mendapatkan-Mu kembali. Maka lancarkanlah jalanku.
Aku tak berhenti menangis. Sedih dan kecewa kepada diriku sendiri yang sungguh naïf. Jawaban pesan ini menggugurkan semua prasangka burukku kepadamu. Aku mulai mengetik pesan balasan dengan tangan gemetar;
Bismillah,
insyaAllah aku dan keluargaku siap menerimamu

pesanku menjadi penutup pembicaraan di sore ini. Bahagia ini tidak bisa menggambarkan semua yang terjadi di hidupku. Sebagai wakil rasa syukurku kepada Allah atas karunia yang ada. Penantianku bukan lagi tak berujung. Tapi penantianku adalah persiapan yang luar biasa dan mendadak menjadi kesibukan tersendiri di hari sebelum wisuda. Hari wisuda sekaligus pertemuan dua keluarga yang dilanjutkan dengan akad pernikahan. Hari pertama dimana kau menjadi imam yang halal bagiku, yang akan mengajarkanku cara mencintai Allah dengan sebenar-benarnya. Alhamdulillah


oleh: Azizatul Ulfa
(termasuk karya  15 besar terbaik Lomba Cerpen Islami Gema Muharram 1436 H Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

0 comments :

Post a Comment