Pages

Wednesday, 6 May 2015

Resume


Resume
Tafsir Surat Al Fatihah



KATA PENGANTAR

Segala puji hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang telah mengirimkan Al-Qur’an sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaanNya, atas karunia dan hidayahNya sehingga pembuatan resumen ini dapat terselesaikan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada Rasulullah SAW yang melalui perantara beliau Al-Qur’an tersebut dapat sampai pada diri manusia.
Terimakasih pula kepada Bapak Marsudi Iman selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Qur’an, Hadits dan Ayat Pendidikan yang telah membimbing proses disusunnya resume ini.  Juga kepada seluruh pihak yang telah mendukung berjalannya pembuatan resume ini.
Tafsir Al-Qur’an pada masa sekarang sangat diperlukan dalam pembahasan dan pembelajaran Al-Qur’an itu sendiri guna memberikan penjelasan yang benar dan sesuai dengan keadaan pada zaman Al-Qur’an diturunkan. Surat Al-Fatihah memiliki arti yang begitu penting pula untuk didalami makna yang terkandung di dalammnya. Al-Fatihah sebagai induk Al-Qur’an memiliki begitu banyak pelajaran yang dapat digunakan sebagai kajian-kajian kehidupan sehingga tafsir pada surat ini pun sangat dibutuhkan.
Dalam tulisan ini akan dibahas resume mengenai tafsir surat Al-Fatihah yang terdiri dari ayat pertama hingga akhir. Yang terrangkai dengan berporos pada penjelasan-penjelasan yang telah didapatkan dari pembelajaran mata kuliah yang bersangkutan ditambahkan dengan beberapa penjelesan dari berbagai referensi yang digunakan. Resume ini mengupas ulasan atau penjelasan yang dirangkai dengan sebagian tersusun ke dalam potongan-potangan ayat yang dipisahkan.
Resume kali ini disusun dengan harapan dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran oleh kalangan kependidikan khususnya untuk menggali lebih dalam mengenai Al-Qur’an yang mulia sehingga dapat mengambil pelajaran-pelajaran atas tanda-tanda kekuasaanNya. Sehingga dapat berguna demi terwujudnya suatu budaya kehidupan dan kependidikan yang mencerminkan akhlak Al-Qur’an sebagai bagian dari bimbingan terhadap Ulil Albab.
Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

Sekitar 1400 tahun yang lalu, Al-Qur’an hadir mewarnai dunia yang sudah usang dengan dosa-dosa manusia yang tertumpahkan. Cahaya Al-Qur’an ditanamkan pada setiap diri ummat Muhammad pada waktu itu. Kemaksiatan, kejahatan serta kebodohan yang ada hampir dapat diminimalkan secara total. Kebangkitan dunia Islam pun datang dan berlaga di panggung dunia yang tadinya porak-poranda.
Setelah berabad-abad dari masa diturunkannya Al-Qur’an tersebut, ummat akhir zaman sering menemukan gesekan-gesekan akibat perbedaanpendapat satu sama lain mengenai Al-Qur’an itu sendiri termasuk pada bagian penafsiran setiap surat yang tertuang. Hal ini terjadi kemungkinan salah satunya terjadi karena ummat pada masa kini tidak terjun langsung pada peristiwa-peristiwa ketika diturunkannya Al-Qur’an. Maka sangat diperlukan adanya penafsiran terhadap setiap surat, ayat bahkan kata pada Al-Qur’an untuk memudahkan pemahaman Al-Qur’an.
Surat Al-Fatihah sebagai surat yang sangat penting untuk dibahas dan dipahami menjadi salah satu bagian yang wajib ditafsirkan atas ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Di manan surat ini adalah surat yang berada pada lembar paling depan dari Al-Qur’an, surat yang menjadi rukun wajib untuk dibaca saat shalat, serta surat yang menjadi induk Al-Qur’an.




BAB II
PEMBAHASAN

1.      Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
2.      Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
3.      Yang Maha pengasih, Maha penyayang,
4.      Pemilik hari pembalasan.
5.      Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
6.      Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7.      (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
A.    Istilah Al-Fatihah
Al-Fatihah memiliki beberapa istilah yang sering digunakan. Di antaranya adalah Al-Fatihah itu sendiri, Umm Al-Qur’an dan Assab’u Al-Matsani.
Surat ini dinamakan dengan Al-Fatihah dengan maksud sebagai surat pembuka Al-Qur’an. Ketika melihat pada semua mushaf Al-Qur’an, Al-Fatihah pasti terdapat pada posisi terdepan dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an. Sebelum tertera susunan-susunan surat-surat Al-Qur’an yang lain, Al-Fatihah telah tersusun di bagian paling awal sebagai pembuka Al-Qur’an.
Al-Fatihah juga dinamakan dengan Umm Al-Qur’an yang artinya Induk Al-Qur’an. Al-Fatihah sebagai pokok atau inti Al-Qur’an. Hal ini dapat dijelaskan dengan hal-hal yang dibicarakan dan dibahas dalam surat ini sendiri, yang begitu mencakup masalah-masalah inti keIslaman manusia. Al-Fatihah mengandung tiga masalah pokok dalam Islam, yaitu Aqidah, Ibadah dan Akhlak. Adanya pembahasan mengenai keesaan Allah serta sifat-sifat lain yang menunjukkan keagunganNya serta hal-hal lain yang global dan pokok dari surat-surat lain dalam Al-Qur’an.
Begitu pula surat ini dinamakan dengan Assab’u Al-Matsani yang memiliki arti “yang dibaca berulang-ulang”. Karena memang seperti yang telah dijelaskan dalam bab Pendahuluan bahwa Al-Fatihah sering digunakan dalam ibadah-ibadah yang inti dalam Islam. Termasuk ketika pelaksanaan shalat dilangsungkan, pembacaan yang menjadi rukun wajib adalah dengan bacaan surat ini pada setiap rakaat yang ada. Bukan hanya itu, pada saat mengawali tadarus ada yang menganjurkan untuk membaca Al-Fatihah disempatkan sebelum memulai kegiatan tersebut.
B.     Tempat Diturunkannya Al-Fatihah
Dalam Kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna diulas pendapat dari Jumhur Ulama mengenai waktu dan tempat diturunkannya Al-Fatihah yang menyebutkan tempat diturunkannya adalah di kota Mekkah berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al Hijr (Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung). Surat Al-Hijr berdasarkan ijma’ adalah termasuk pada surat Makkiyah
C.     Tafsir Surat Al-Fatihah
1.      Ayat pertama
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha pengasih, Maha penyayang)
Ayat ini ada yang berpendapat bahwa bukan merupakan salah satu ayat dari surat Al-Fatihah, namun ada pula yang berpendapat ayat ini merupakan bagian dari surat Al-Fatihah. Hujjah yang berpendapat bahwa Basmalah tremasuk dalam suratAl-Fatihah seperti yang tertera dalam Kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna adalah dengan penulisannya di Mushhaf Imam yang dikirim khalifah ketiga Radhiyallahu Anhu ke seluruh penjuru negeri setelah melakukan musyawarah dengan para sahabat, dan ummat berijma’ tentang hal itu, dan penulisan adalah dalil paling kuat. Di mana hadits-hadits shahih yang menetapkan hal tersebut di antaranyayang diriwayatkan Al-Bukhari, Ummu Salamah, dan An-Nasa’i dan lainnya.
Basmalah memberikan arti baru yang berbeda dengan makna yang sebelumnya. Makna Basmalah yang terkandung di setiap surat sesungguhnya merupakan makna yang sesuai dengan kandungan surat di mana Basmalah berada di dalamnya. Basmalah dalam surat Al-Fatihah sesuai dengan makna yang ada dalam surat tersebut, dari sisi pujian kepada Allah,rahmaaniyah dan rahiimiyahNya, menampakkan penghambaan dan memohon pertolonganNya dan lainnya sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Fatihah. Hal ini menunjukkan makna yang begitu besar terhadap keniatan seorang hamba dalam melakukan segala kegiatan.
                        Seseorang melafazkan Basmalah setidaknya terdapat beberapa orientasi atau tujuan, yaitu:
a.       Untuk melakukan sesuatu karena Allah
b.      Agar mendapatkan keberkahan dari Allah dalam melakukan sesuatu
Setiap perbuatan dan perbuatan baik pasti memiliki dua kebaikan yaitu kebaikan perbuatan dan kebaikan pelaku ketika di dalam diri terdapat kebaikan. Inilah yang disebut dengan kebaikan fi’il yang kembali pada orang yang melakukannya. Juga ketika memulai pekerjaan dengan menyebut nama Allah SWT dan berpasrah diri kepadaNya, maka inilah fa’il yang baik itu (artinya fa’il yang baik itu adalah Allah SWT atau seseorang yang berpasrah diri kepadaNya). Maka sangat diharuskan dua kebaikan tersebut tercakup dalam segala hal yang dilakukan.
a.        
(Dengan nama Allah)
Di dalam melakukan segala hal, seorang hamba setidaknya harus melakukannya dengan dua orientasi di atas. Segalanya dilakukan hanya karena demi Allah.
Adapun pekerjaan yang dimulai dengan menyebut nama Allah SWT, maka itulah pekerjaan yang akhir dan awalnya sampai kepadaNya serta tidak terputus. Ketika itu dimulai dengan kebenaran, maka itu akan berakhir dengan kebenaran, dan tujuan yang benar pun akan tercapai.
Al ‘Ism seperti dalam kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al Bana adalah sesuatu yang menunjukkan dzat atau makna. Dan lafadz Jalalah (Allah): Pengetahuan tentang dzat yang wajib keberadaannya, dia adalah nama Allah SWT paling mulia dan paling komprehensif. Dan apa-apa selainnya merupakan sifat-sifat Allah SWT, disandarkan kepadaNya Af’al (perbuatan-perbuatan) sifat-sifat ini dan masdar-masdarnya, serta dimutlakkan baginya Asmaul Husna. Nama Jalalah A’zham menunjukkan semua ini dan kewajiban-kewajiban yang menunjukkan kesempurnaannya, serta kesucian Allah SWT dari lawan sifat-sifat ini, maka menunjukkan penyifatan Allah SWT dengan semua sifat kemuliaan da kesucianNya dari semua kekurangan.
Dalam buku Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad Amuli, Jar dan majrur yang ada dalam kata bismi berhubungan dengan mintalah pertolongan atau mulailah, dan ini lebih tepat karena adanya (kata-kata) pertolongan di ayat kelima, yaitu: Hanya kepada Engkaulah kami menembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Kata Allah dalam ayat ini lebih menunjukan dan menekankan pada tauhid Uluhiyah. Di mana Allah adalah Sesembahan yang harus disembah, diabdi dan ditaati.
b.       
(Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Ayat ini menunjukkan kedua sifat Allah SWT yang musytaq dari Ar-Rahmah dengan makna yang sesuai kemuliaanNYa. Menurut Ibn Al Qayyim, kompilasi antara Ar Rahman dan Ar rahim mengandung makna badi’ (indah). Di mana Ar Rahman menunjukkan sifat dzat Allah SWT (sifat) dan Ar Rahim menunjukkan bahwa Allah menyayangi makhlukNya dengan RahmatNya (pekerjaan). (Kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al Bana, 58)
2.      Ayat Kedua

(Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta)
a.        
(Puji)
Kata ini  menunjukkan dua makna yang mendasar:
1)      Memuji manfaat dari yang dipuji, yang bisa jadi kebermanfaatan tersebut belum didapatkan.
2)      Bersyukur, di mana kebermanfaatan yang ada telah dinikmati (diberi nikmat).
Maka manusia wajib berusaha mengetahui rahasia-rahasia alam dan lainnya agar mampu mengetahui dengan benar kebesaran Allah SWT sehingga pujian kepada Allah SWT menjadi pujian benar  yang berasal dari pengetahuan hakiki, perasaan hati dan melalui pikiran, yang bukan sekedar taklid lafadz karena warisan orang-orang terdahulu.
Kembali lagi melihat dalam buku Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad Amuli, alif lam pada kata al-hamdu harus menunjukkan istiqra’ (pengkhususan). Maka Allah adalah satu-satunya yang (patut) disyukuri. Segala sesuatu (adalah) milikNya, sehingga kita harus bersyukur kepadaNa. Siapapun tidak diperkenankan bersyukur kepada selainNya. Barangsiapa yang melakukan itu, ia telah menghantarkan dirinya pada kehancuran dan kehinaan.
b.       
(Bagi Allah)
Di mana semua pujian dan tindakan bersyukur tersebut hanya kepada Allah. Segala keindahan Allah adalah indah secara mutlak dansegala  kesempurnaan Allah adalah sempurna secara mutlak, bukan disebabkan kesempurnaan itu indah atau kesempurnaan itu bersifat relatif. Setiap tempat yang di dalamny keindahan (terwujud), itu adalahh tanda kebesaran Allah. Dan setiap tempat yang sempurna juga merupakan tanda keagungan Allah. Sebagaimana bersyukur merupakan bagian dari kesempurnaan dan keindahan, maka setiap syukur harus (ditujukan) kepada Allah dan tak seorang pun yang memiliki syukur selain Allah. (Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad Amuli, 58)
c.        
(Pencipta, Penumbuh, Pengembang, Pemberi rizky, dan Pendidik)
Al Baidhawy berkata bahwa Ar-Rabb sebenarnya adalah masdar dengan makna tarbiyah, yaitu menyampaikan sesuatu agar menjadi sempurna sedikit demi sedikit, kemudian disifati dengan itu untu mubalaghah. Kemudian Al-Malik dinamakan dengan itu,karena Dia menjaga apa yang dimiliknya dan menyempurnakannya, dan tidak dipakai untuk selain Allah SWT kecuali ditaqid atau diidhafahkan.
Allah itu yang menciptakan, yang menghidupkan, yang menumbuhkan, yang mengembangkan, yang memberi rizky dan yang mendidik.
Kata ini lebih menekankan pada tauhid Rububiyah, bahwa Allahlah yang menciptakan, memelihara, menumbuhkan, mendidik dan lainnya sehingga  Allah sangat layak untuk disembah.
Allah adalah pendidik dan Ia membagi tugasNya pada Nabi dan Rasul. Sedangkan Nabi dan Rasul membagi tugasnya pada para ‘Ulama, dan dilajutkan pada Guru-Guru.
Allah à Nabi dan Rasul à ‘Ulama à Guru
Dari rangkaian tersebut, dapat dilhat dengan jelas ketika dihubungkan dengan ayat yang selanjutnya yang artinya “Yang Mahapengasih MahaPenyayang”, bahwa sebagai guru seseorang harus memiliki karakter kasih sayang; yaitu mempunyai kelekatan pada siswa, melayani dan mendoakan.

d.       
(Alam Semesta)
Alam semesta memiliki dua unsur pokok, yaitualam semseta yang tercakup dalam sifat biotik, dan alam semesta yang tercakup dalam sifat abiotik. Biotik tersusun dari makhluk-makhluk atau cipataan-ciptaan Allah yang hidup (dapat tumbuh dan berkembang) seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sedangkan abiotik tersusun dari makhluk-makhluk atau ciptaan-ciptaan Allah yang mati (tidak dapat tumbuh dan berkembang) seperti tanah, air, tata surya dan lainnya.
Ketika digabungkan dengan kata Ar-Rabb di atas seperti yang tertera dalam Kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al Bana , tarbiyah Ilahiyah terhadap semua makhluk terlihat jelas dalam semua bentuk zhahir alam-alam ini. Menurut beliau maka benda-benda padat  disempurnakan oleh Allah SWT dengan rahasia-rahasia alam ini yang tidak lepas dari proses interaksi, tahlil (penguraian), tarkib, percampuran, penyatuan dan perubahan. Dalam jenis tumbuh-tumbuhan lebih jelas terlihat lagi makna Tarbiyah Ilahiyah ini dari jenis benda-benda padat, berupa makna-makna kehidupan dan dasar-dasarnya. Janin tumbuhan tetap menjadi janin di dalam biji sampai menemukan tanah yang bagus, maka dia tumbuh, bergerak, makan dari makanan-makanan sekitarnya yang memang dipersiapkan untuk itu. Dan begitu pula dengan hewan dalam alur/ritme kehidupannya.
3.      Ayat Ketiga

(Yang Mahapengasih Mahapenyayang)
Adanya pengulangan penyebutan kalimat ini dalam tafsir Al Manar dijelaskan bahwa penyebabnya adalah bahwa TarbiyahAllah terhadap alam semesta bukan kebutuhanNya terhadap alam semesta tersebut seperti memberi manfaat dan menolak mudharat, melainkan disebabkan keumuman rahmatNya dan cakupan ihsanNya.
Kemudian dalalm tafsir Al Manar juga disebutkan penyebab yang lain: Bahwa sebagian orang memahami makna Ar-Rabb adalah Al-Jabarut dan Al-Qahr, maka Allah ingin mengingatkan mereka dengan rahmat dan ihsanNya, agar mereka mampu mengkompilasikan antara keyakinan Al-Jalal dan Al-Jamal. Maka Allah menyebutkan Ar-Rahman, karena Dia pemberi berbagai nikmat dengan penuh keluasaan dan kebaruan yang tidak ada ujungnya, serta Ar-Rahim yang konstan, Dia memiliki sifat Ar-Rahmah yang tidak mungkin hilang selamanya. Seakan-akan Allah ingin menyampaikan rasa cintaNya kepada hamba-hambaNya, maka Dia memberi tahu mereka bahwa RububiyyahNya adalah Rububiyyah rahmat dan ihsan, agar mereka mengetahui bahwa sifat ini bisa jadi rujukan bagi makna sifat-sifat lainnya, maka mereka menerimanya dengan keridhoan, kelapangan dada dan ketenangan hati.
4.      Ayat Keempat

(Yang menguasai hari pembalasan)
a.        
(Memberikan arti: memiliki, menguasai, merajai)
Dalam ayat keempat ini, Syaikh Jawad Amuli membahas mengenai dua cara pembacaan: maalik dan malik. Dan pembacaan yang pertama lebih sering dan umum dibanding yang kedua.
1)      Malik  yang mimnya dibaca kasrah
Malik yang ini menunjukkan makna i’tibar (tidak hakiki) yang kepemilikannya dapat berpindah tangan. Seperti kepemilikan manusia atas barang dan hartanya. Kadangkala ada pula kepemilikan manusia yang bersifat hakiki seperti kepemilikan atas mata, pendengaran dan lainnya. Namun kesifatan hakiki tersebut masih terdapat batasan-batasan tertentu dan sesuai dengan (makna) kepemilikan yang sebelumnya.
2)      Malik yang diibaratkan bagi kepemilikan sebab atas akibatnya
Kepemilikan ini  bersifat hakiki dan tak terbatas, yaitu kepemilikan Allah SWT atas makhluk-makhlukNya. Dialah sebab atas segala akibat, atas setiap makhluk-makhlukNya dan setiap keberadaan, tanpa terkecuali. Hal tiu disebabkan karena kepemilikan Allah bersifat mutlak.
Sangat diyakini bahwa kekuasaan Allah itu absolut, termasuk Allah adalah dzat yang absolut menguasai hari pembalasan.
Dalam pembahasan linguistik, Al-Maliku (lamnya dibaca kasrah) berasal dari kata al-mulku (mimnya dibaca dhammah dan lamnya sukun). Ketika melihat dari sebuah penjelasan, tidak ada perbedaan antara al-Maalik dan al-Malik. Sebab Allah SWT adalah penguasa segala sesuatu dan pemiliknya. Dari sisi ungkapan tak ada perbedaan bagi Allah SWT.
Penjelasan dari ayat keempat ini ketika penulis kutip dari Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad Amuli bahwa jika kata al-Malik, lamnya dibaca kasrah, disandarkan pada masa, maka artinya adalah masa tersebut adalah dharf (kata keterangan tambahan) bagi kepemilikan al-Malik. Karena itu, firman Allah dalam ayat keempat ini bermakna bahwa hari pembalasan merupakan dharf dari tampaknya kepemilikan ini. Arti dari ayat mulia ini bukanlah bahwa hari itu milik Allah. Sebab, ini merupakan hal yang disempurnakan. Tidak mungkin seseorang dapat membayangkan sesuatu di antara masa, tempat atau alam, kecuali bahwa ia adalah milik Allah SWT. Sebab, Dialah sebab keberadaan orang tersebut. Jika makna ini, dilihat dari sisi kekuasaan Allah SWT, menembus dengan sempurna dan terrealisasi secara mutlak pada hari tersebut – hari pembalasan – maka ungkapan yang lebih tepat adalah al-Malik, dengan lam yang dibaca kasrah.
Akan tetapi, jika dilihat pada umumnya kata al-Maalik yang di dalamnya ada kata al-Malik, maka al-Maalik yang lebih tepat. Sebab, Allah SWT pemilik dan penhuasa segala sesuatu. Dari sisi ini, maka Allah SWT adalah al-Maalik dan Dia memberikan pada selainNya al-Malik.
b.       
(Hari pembalasan)
Dua kata ini mengandung dua makna, di antaranya:
1)      Makna Dzahir
Menunjuk pada hari akhirat. Pemaknaan semacam ini banyak dipahami oleh para ‘Ulama klasik di mana berawal dari kubur, kebangkitan, pengumpulan, penimbangan, penghisaban dan pembalasan.
2)      Makna Bathin
Menunjuk pada kata “langsung”. Di mana pembalasan terjadi ketika dan atau sesudah manusia melakukan sesuatu. Seperti shadaqah, dan balasan atas kedurhakaan pada orang tua.
     Namun ketika menyelami lebih dalam mengenai balasan dari Allah SWT, tercakup makna mushibah. Di mana mushibah itu sendiri dapat terjadi sebagai balasan dari Allah yang dapat disebut sebagai azab, atau mushibah datang karena ujian atau cobaan dari Allah SWT.
                 Perbedaan makna dzahir dan makna bathin adalah karakter balasannya. Balasan yang didapat di dunia dapat terjadi salah sasaran (misalkan dalam hal keadilan hukum manusia yang telah rusak) serta balasan terhadap perbuatan yang dilakukan individu dapat dirasakan secara kolektif/bersama-sama baik hal tersebut adalah nikmat ataupun siksa.
5.      Ayat Kelima

(Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan)
Ayat ini mengajarkan adana penguatan ‘aqidah, ‘ibadah dan akhlak yang mana hanya ditekankan pada Allah SWT. Aqidah yang kuat terhadap ketauhidan/keesaan Allah, terhadap segala yang dihajatkan pada Allah, terhadap semua yang dilakukan untuk Allah. ‘Ibadah yang dilakukan juga hanya karena Allah dan untuk Allah, yang dilakukan dalam mengimbangi adanya kewajiban dan hak sebagai seorang hamba Allah SWT. Begitu pula ajaran akhlak yang menekankan pada etika hak-kewajiban, bahwa memenuhi kewajiban terlebih dahulu adalah hal ang indah sebelum meminta hak diberikan.
a.        
(Hanya kepadaMu)
Kata ini menunjukkan niat, tujuan atau orientasi melakukan segala ibadah yang dilakukan hanya kepada Allah. Bukan kepada manusia, bukan pada leluhur atau bukan kepada pemimpin atau pemerintah.
Dalam buku Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad Amuli, dikaji mengenai penempatan kata ini sebelum kata lain dalam ayat ini. Alasannya adalah untuk menunjukkan  (adanya) pembatasan di dalamnya hanya kepada Allah; Dialah yang disembah dan tidak ada selainNya. Apabila kata ‘ibadah yang didahulukan dan kata iyyaka diakhirkan, maka ayat mulia ini tidak menunjukkan (adanya) pembatasan ibadah hanya kepada Allah SWT. Kata ini didahulukan juga agar seorang hamba harus mengetahui dan mengenal Tuhannya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan yang ada padaNya, akan menikmati ibadah kepadaNya. Selain itu seorang hamba  dalam keadaan yang sangat sulit di mana setan selamanya akan membisikkan dan membuat bingung, kadangkala menghalangi hamba dari ibadah dan adakalanya menginginkan para hamba untuk menyembah selain Allah, sehingga dengan hal tersebut para hamba harus kembali pada ayat yang mulia ini untuk kembali mengawali beribadah kepadaNya. Ayat ini tidak mengatakan “pertama-tama aku menyembah dan kemudian aku mencari Yang aku sembah
“, tetapi “ pertama-tama, carilah Yang kamu sembah, baru kemudian kamu menyembahNya”. Kata ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya ibadah itu terdiri dari beberapa bagian, yaitu pertama yang harus dilakukan adalah melihat Yang disembah, kemudian melihat urusan-urusan yang berkenaan dengan ibadah, sehingga seorang hamba dapat tenggelam dalam penyembahan.
b.       
(kami mengabdi, menghamba, menyembah)
Kata ini memiliki beberapa arti predikat yang menyandang subjek “kami” di dalamnya, yaitu mengabdi, menghamba dan menyembah. Mengabdi, menghamba dan menyembah terbagi dalam dua unsur pokok, di antaranya al-‘Amm dan al-Makhdhoh. Al-‘Amm ( ibadah yang tidak langsung diatur dengan tatacara melakukannya) terdiri atas predikat ibadah belajar, bekerja dan lainnya. sedangkan al-Makhdhoh (ibadah yang telah diatur tatacara melakukannya) terdiri atas ibadah shalat, puasa, haji dan lainnya.
Predikat mengabdi, menghamba dan menyembah di sini hanya akan bernilai pahala ketika memiliki syarat “ikhlas”. Ikhlas berdefinisi tidak ada kaitannya dengan honorarium. Segala ibadah dapat dikatakan ikhlas, di antaranya:
1)      Apabila setidaknya ikhlas dalam niat yaitu hanya mencari ridho Allah
2)      Apabila adanya profesional dalam bekerja dengan melakukan segala aktivitas dengan sebaik-baiknya
3)      Apabila adanya pemanfaatan hasil di jalanNya
c.        
(dan hanya kepadaMu)
Kata ini menegaskan pula seperti kata Iyyaka yang di awal ayat, di mana dengan didahulukannya kata “dan hanya kepadaMu” untuk menunjukkan  (adanya) pembatasan di dalamnya hanya kepada Allah; Dialah yang layak dimintai pertolonan dan tidak ada selainNya.
d.       
(kami minta pertolongan)
Kata ini menegaskan pada ketauhidan dan keyakinan yang total dan maksimal atas permohonan pertolongan hanya pada Allah SWT. Yakin bahwa hanya Dialah yang dapat mengabulkan segala pertolongan dan permintaan yang semua manusia inginkan. Karena hanya Dialah yang mampu akan itu semua. Maka tidak ada satupun yang memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan dan perlindungan. Hana atas izin Allah lah segalanya dapat etrjadi. Sekalipun Dajjal yang diberitakan bahwa nantinya ia dapat menghidupkan yang mati, menumbuhkan tanaman, dan lain sebagainya, namun itu semua tiak kan dapat terjadi ketika Allah tidak mengizinkan hal teraebut terjadi.
6.      Ayat Keenam

(Tunjukilah kami jalan yang lurus)
Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan yang lebar, luas dan bebas hambatan, yaitu jalan menuju surga Allah SWT Yang telah menciptakan kehidupan ini. Sedangkan hambatan yang ada dibagi menjadi dua, yaitu:
a.       Hambatan dari internal manusia
Hambatan ini muncul dari dalam diri manusi aitu sendiri dalam mencapai jalan yang lurus. Yaitu munculnya keragu-raguan akan Allah SWT dan akan agamaNya yang diridhoi. Dari keragu-raguan tersebut muncullah kemalasan yang dapt menghalangi manusi untuk menuju surgaNya.
b.      Hambatan dari eksternal manusia
Hambatan ini muncul akibat adanya dorongan dari pihak luar manusia. Seperti beredarnya bacaan yang menguatkan akan keraguan terhadapa Allah SWT, adanya pengaruh komunikasi dengan manusia yang lainnya, atau dari pengaruh tekhnologi yang dfapat mengendalikan pengarahan paradigma dan ideologi manusia itu sendiri.
Kata “hidayah” dalam ayat ini memiliki dua fase dalam pencapaian untuk dapat menuju jalan yang lurus tersebut, di antaranya adalah:
a.       Melalui ‘Ilmu
Manusia melalui jalan peningkatan ilmu dan pengetahuannya dapat lebih mengetahui hal-hal yang sebenarnya, termasuk kebenaran agama Allah SWT. Ketika manusia tidak mengembangkan ilmu pengetahuannya kemungkinan besar hanya berjalan di fase yang tidak bergerak. Tingkat keimanan seorang yang tidak belajar tidak tertumbuhkan akibat adanya sikap ketidaktahuannya akan tanda-tanda kekuasaanNya. Tanda-tanda kekuasaanNya tersebut dapat dilihat, dirasakan dan dianalisad dengan sengaja melihat, merasakan dan menganalisanya melalui pencarian ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga akan mencapai pada fase “tahu”.
Dalam ilmu, terdapat tiga poin yang harus dilihat, yaitu aspek cognitive (pengetahuan), aspek afektive (penghayatan), dan aspek psikomotorik (praktik). Ketika manusia telah mengetahui atau melewati aspek pengetahuan maka akan muncul komprehensive yang membantu menguatnya aspek afektif, dan begitu pula ketika kedua aspek tersebut telah berhasil terlewati, maka akan terjadi tumbuhnya characterization yang membantu menguatnya aspek praktik.
1)      Melalui ‘Amal
Pada fase ini ditekankan bahwa manusia dapat menerima hidaya =h dari Allah SWT dengan kerja nyatanya. Dengan amal-amalatau karya-karya uyang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kerja-kerja ini dapat dilakukan pada berbagai profesi atau bagian yang ditekuni dengan orientasi kebaikan untuk dirinya dan tidak menutup diri dari kebenaran Ilahi. Fase ini dapat dilihat dari banyak kejadian yang sudah menjadi bukti akan adanya hidayah Allah terhadap hamba-hambaNya melalui karya-karya di dunia.
Dari kedua fase ini, selayaknya terdapat penyesuaian dan penyeimbangan, sehingga tidak menghiraukan salah satu atau keduanya. Ilmu harus diamalkan, dan amal harus memiliki ilmu sebelum melakukannya. Bukan dengan ilmu saja tanpa adanya realisasi yang mengimplementasikan segala ide yang ada dalam diri, dan bukan hanya amal yang menggebu-gebu tanpa didasarkan pada ilmu untuk melaksanakannya.
Imam Hasan Al Bana menjelaskan dalam kitab Muqaddimah Ilmu Tafisrnya mengenai empat perantara untuk mendapatkan hidayah, yang mana perantara-perantara tersebut bertingkat-tingkat berdasarkan orang-orangnya dan jenisnya, sesuai dengan tingkatan pertumbuhan dan kesiapan mereka. Di antaranya adalah:
1)      Perasaan tabi’i dan ilham fithri, ini sudah dimiliki seorang bayi semenjak kelahirannya.
2)      Indera dan perasaan yang berkembang sejalan dengan perkembangan manusia, berupa pendengaran, penglihatan, alat perasa dan penciuman. Sebagian besarnya bisa melakukan kesalahan.
3)      Akal dengan kekuatannya yang berbeda-beda, berupa pengetahuan, pemikiran, khayalan, hafalan, ingatan... sampai akhir. Dia adalah sumber hukum dan inti taklif bagi seorang manusia. Dia bisa membenarkan kesalahan indera dan mengetahui hakikat-hakikat sesuatu, baik konkrit maupun abstrak.
4)      Agama, petunjuk Ilahi dan risalah-risalah langit yang diturunkan bersama oara Rasul dan Anbiya’ Alaihim Ash Shalah wa As Salam.
7.      Ayat Tujuh

((yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat)
Ayat ini mengandung penjelasan terhadap ayat sebelumnya, yaitu menegani jalan yang lurus. Dikatakan jalan yang lurus ketika jalan tersebut bukanlah jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat.
Dalam ayat ini terdapat tiga bentuk manusia yang dicirikan Oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT, juga kedua golongan yang disebutkan pada paragraf di atas (orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat).
Menurut sebagian ahli tafsir, orang-orang yang diberikan nikmat Oleh Allah SWT adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran, dan Allah memberi taufik kepada mereka untuk mengikutinya, maka mereka mendapat hidayah  ke jalan yang lurus. Yaitu mereka para Nabi dan Rasul, para Syuhada’, serta orang-orang mukmin dari ummat Muhammad SAW, atau selainnya dari ummat-ummat sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud orang-orang yang dimurkai tersebut adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran, kemudian berpaling darinya, dari agama apapun berasalnya dan kapanpun hidupnya Yaitu kaum Yahudi yang berpaling dari petunjuk Taurat, Majusi, dan Kaum Nabi Luth. Keberpalingan inilah yang menjadikan Allah SWT marah atau murka. Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang lalai dari kebenaran dan mereka merasa betah dalam lembah kesesatan, atau orang-orang yang berpegang dengan kebenaran, akan tetapi mereka tidak bisa mendapatkan petunjuk dengannya, dari agama apapun berasalnya dan kapanpun hidupnya. berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Injil yang benar Yaitu kaum Nashrani.
Sehingga dalam ayat ketujuh ini, manusia dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT agar dapat ditunjukkan jalan orang-orang yang diberi nikmat sehingga dapat sampai pada tujuan akhir kehidupan ini dan dapat terhindar dari dua jalan yang lainnya. ditunjukkan bukan pada jalan kedua golongan orang-orang yang dimurkai ataupun jalan orang-orang yang sesat.


Oleh Latifatul fajriyah (20130720090), diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Tafsir Qur'an dan Hadits serta Ayat Pendidikan, Dosen Pengampu Bapak Marsdui Iman



0 comments :

Post a Comment