Resume
Tafsir Surat Al Fatihah
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang telah mengirimkan Al-Qur’an sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaanNya, atas karunia
dan hidayahNya sehingga pembuatan resumen ini dapat terselesaikan. Shalawat dan
salam semoga selalu tercurah pada Rasulullah SAW yang melalui perantara beliau
Al-Qur’an tersebut dapat sampai pada diri manusia.
Terimakasih pula kepada Bapak Marsudi Iman selaku
dosen pengampu mata kuliah Tafsir Qur’an, Hadits dan Ayat Pendidikan yang telah
membimbing proses disusunnya resume ini.
Juga kepada seluruh pihak yang telah mendukung berjalannya pembuatan
resume ini.
Tafsir Al-Qur’an pada masa sekarang sangat
diperlukan dalam pembahasan dan pembelajaran Al-Qur’an itu sendiri guna
memberikan penjelasan yang benar dan sesuai dengan keadaan pada zaman Al-Qur’an
diturunkan. Surat Al-Fatihah memiliki arti yang begitu penting pula untuk
didalami makna yang terkandung di dalammnya. Al-Fatihah sebagai induk Al-Qur’an
memiliki begitu banyak pelajaran yang dapat digunakan sebagai kajian-kajian
kehidupan sehingga tafsir pada surat ini pun sangat dibutuhkan.
Dalam tulisan ini akan dibahas resume mengenai
tafsir surat Al-Fatihah yang terdiri dari ayat pertama hingga akhir. Yang
terrangkai dengan berporos pada penjelasan-penjelasan yang telah didapatkan
dari pembelajaran mata kuliah yang bersangkutan ditambahkan dengan beberapa
penjelesan dari berbagai referensi yang digunakan. Resume ini mengupas ulasan
atau penjelasan yang dirangkai dengan sebagian tersusun ke dalam
potongan-potangan ayat yang dipisahkan.
Resume kali ini disusun dengan harapan dapat menjadi
salah satu sarana pembelajaran oleh kalangan kependidikan khususnya untuk
menggali lebih dalam mengenai Al-Qur’an yang mulia sehingga dapat mengambil
pelajaran-pelajaran atas tanda-tanda kekuasaanNya. Sehingga dapat berguna demi
terwujudnya suatu budaya kehidupan dan kependidikan yang mencerminkan akhlak
Al-Qur’an sebagai bagian dari bimbingan terhadap Ulil Albab.
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
Sekitar 1400 tahun
yang lalu, Al-Qur’an hadir mewarnai dunia yang sudah usang dengan dosa-dosa
manusia yang tertumpahkan. Cahaya Al-Qur’an ditanamkan pada setiap diri ummat
Muhammad pada waktu itu. Kemaksiatan, kejahatan serta kebodohan yang ada hampir
dapat diminimalkan secara total. Kebangkitan dunia Islam pun datang dan berlaga
di panggung dunia yang tadinya porak-poranda.
Setelah berabad-abad
dari masa diturunkannya Al-Qur’an tersebut, ummat akhir zaman sering menemukan
gesekan-gesekan akibat perbedaanpendapat satu sama lain mengenai Al-Qur’an itu
sendiri termasuk pada bagian penafsiran setiap surat yang tertuang. Hal ini
terjadi kemungkinan salah satunya terjadi karena ummat pada masa kini tidak
terjun langsung pada peristiwa-peristiwa ketika diturunkannya Al-Qur’an. Maka
sangat diperlukan adanya penafsiran terhadap setiap surat, ayat bahkan kata
pada Al-Qur’an untuk memudahkan pemahaman Al-Qur’an.
Surat Al-Fatihah
sebagai surat yang sangat penting untuk dibahas dan dipahami menjadi salah satu
bagian yang wajib ditafsirkan atas ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Di
manan surat ini adalah surat yang berada pada lembar paling depan dari
Al-Qur’an, surat yang menjadi rukun wajib untuk dibaca saat shalat, serta surat
yang menjadi induk Al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
3. Yang Maha pengasih, Maha penyayang,
4. Pemilik hari pembalasan.
5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami
mohon pertolongan.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
A. Istilah Al-Fatihah
Al-Fatihah memiliki beberapa istilah yang sering digunakan. Di antaranya
adalah Al-Fatihah itu sendiri, Umm Al-Qur’an dan Assab’u Al-Matsani.
Surat ini dinamakan dengan Al-Fatihah dengan maksud sebagai surat pembuka
Al-Qur’an. Ketika melihat pada semua mushaf Al-Qur’an, Al-Fatihah pasti
terdapat pada posisi terdepan dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an. Sebelum
tertera susunan-susunan surat-surat Al-Qur’an yang lain, Al-Fatihah telah
tersusun di bagian paling awal sebagai pembuka Al-Qur’an.
Al-Fatihah juga dinamakan dengan Umm Al-Qur’an yang artinya Induk
Al-Qur’an. Al-Fatihah sebagai pokok atau inti Al-Qur’an. Hal ini dapat
dijelaskan dengan hal-hal yang dibicarakan dan dibahas dalam surat ini sendiri,
yang begitu mencakup masalah-masalah inti keIslaman manusia. Al-Fatihah
mengandung tiga masalah pokok dalam Islam, yaitu Aqidah, Ibadah dan Akhlak.
Adanya pembahasan mengenai keesaan Allah serta sifat-sifat lain yang menunjukkan
keagunganNya serta hal-hal lain yang global dan pokok dari surat-surat lain
dalam Al-Qur’an.
Begitu pula surat ini dinamakan dengan Assab’u Al-Matsani yang
memiliki arti “yang dibaca berulang-ulang”. Karena memang seperti yang telah
dijelaskan dalam bab Pendahuluan bahwa Al-Fatihah sering digunakan dalam
ibadah-ibadah yang inti dalam Islam. Termasuk ketika pelaksanaan shalat
dilangsungkan, pembacaan yang menjadi rukun wajib adalah dengan bacaan surat
ini pada setiap rakaat yang ada. Bukan hanya itu, pada saat mengawali tadarus
ada yang menganjurkan untuk membaca Al-Fatihah disempatkan sebelum memulai
kegiatan tersebut.
B. Tempat Diturunkannya Al-Fatihah
Dalam Kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid
Hasan Al-Banna diulas pendapat dari Jumhur Ulama mengenai waktu dan tempat
diturunkannya Al-Fatihah yang menyebutkan tempat diturunkannya adalah di kota
Mekkah berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al Hijr (Dan sesungguhnya Kami
telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an
yang agung). Surat Al-Hijr berdasarkan ijma’ adalah termasuk pada surat
Makkiyah
C. Tafsir Surat Al-Fatihah
1. Ayat pertama
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha pengasih, Maha penyayang)
Ayat
ini ada yang berpendapat bahwa bukan merupakan salah satu ayat dari surat
Al-Fatihah, namun ada pula yang berpendapat ayat ini merupakan bagian dari
surat Al-Fatihah. Hujjah yang berpendapat bahwa Basmalah tremasuk dalam
suratAl-Fatihah seperti yang tertera dalam Kitab Muqaddimah Ilmu
Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna adalah dengan
penulisannya di Mushhaf Imam yang dikirim khalifah ketiga Radhiyallahu Anhu ke
seluruh penjuru negeri setelah melakukan musyawarah dengan para sahabat, dan
ummat berijma’ tentang hal itu, dan penulisan adalah dalil paling kuat. Di mana
hadits-hadits shahih yang menetapkan hal tersebut di antaranyayang diriwayatkan
Al-Bukhari, Ummu Salamah, dan An-Nasa’i dan lainnya.
Basmalah
memberikan arti baru yang berbeda dengan makna yang sebelumnya. Makna Basmalah
yang terkandung di setiap surat sesungguhnya merupakan makna yang sesuai dengan
kandungan surat di mana Basmalah berada di dalamnya. Basmalah dalam surat
Al-Fatihah sesuai dengan makna yang ada dalam surat tersebut, dari sisi pujian
kepada Allah,rahmaaniyah dan rahiimiyahNya, menampakkan penghambaan dan memohon
pertolonganNya dan lainnya sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Fatihah. Hal
ini menunjukkan makna yang begitu besar terhadap keniatan seorang hamba dalam
melakukan segala kegiatan.
Seseorang
melafazkan Basmalah setidaknya terdapat beberapa orientasi atau tujuan, yaitu:
a.
Untuk
melakukan sesuatu karena Allah
b.
Agar
mendapatkan keberkahan dari Allah dalam melakukan sesuatu
Setiap
perbuatan dan perbuatan baik pasti memiliki dua kebaikan yaitu kebaikan
perbuatan dan kebaikan pelaku ketika di dalam diri terdapat kebaikan. Inilah
yang disebut dengan kebaikan fi’il yang kembali pada orang yang
melakukannya. Juga ketika memulai pekerjaan dengan menyebut nama Allah SWT dan
berpasrah diri kepadaNya, maka inilah fa’il yang baik itu (artinya fa’il
yang baik itu adalah Allah SWT atau seseorang yang berpasrah diri kepadaNya).
Maka sangat diharuskan dua kebaikan tersebut tercakup dalam segala hal yang
dilakukan.
a.
(Dengan
nama Allah)
Di
dalam melakukan segala hal, seorang hamba setidaknya harus melakukannya dengan
dua orientasi di atas. Segalanya dilakukan hanya karena demi Allah.
Adapun
pekerjaan yang dimulai dengan menyebut nama Allah SWT, maka itulah pekerjaan
yang akhir dan awalnya sampai kepadaNya serta tidak terputus. Ketika itu
dimulai dengan kebenaran, maka itu akan berakhir dengan kebenaran, dan tujuan
yang benar pun akan tercapai.
Al ‘Ism seperti dalam kitab Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy
Syahid Hasan Al Bana adalah sesuatu yang menunjukkan dzat atau makna. Dan
lafadz Jalalah (Allah): Pengetahuan tentang dzat yang wajib keberadaannya, dia
adalah nama Allah SWT paling mulia dan paling komprehensif. Dan apa-apa
selainnya merupakan sifat-sifat Allah SWT, disandarkan kepadaNya Af’al
(perbuatan-perbuatan) sifat-sifat ini dan masdar-masdarnya, serta dimutlakkan
baginya Asmaul Husna. Nama Jalalah A’zham menunjukkan semua ini dan
kewajiban-kewajiban yang menunjukkan kesempurnaannya, serta kesucian Allah SWT
dari lawan sifat-sifat ini, maka menunjukkan penyifatan Allah SWT dengan semua
sifat kemuliaan da kesucianNya dari semua kekurangan.
Dalam buku Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad
Amuli, Jar dan majrur yang ada dalam kata bismi
berhubungan dengan mintalah pertolongan atau mulailah, dan ini
lebih tepat karena adanya (kata-kata) pertolongan di ayat kelima, yaitu: Hanya
kepada Engkaulah kami menembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon
pertolongan.
Kata
Allah dalam ayat ini lebih menunjukan dan menekankan pada tauhid Uluhiyah. Di
mana Allah adalah Sesembahan yang harus disembah, diabdi dan ditaati.
b.
(Yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang)
Ayat
ini menunjukkan kedua sifat Allah SWT yang musytaq dari Ar-Rahmah dengan
makna yang sesuai kemuliaanNYa. Menurut Ibn Al Qayyim, kompilasi antara Ar
Rahman dan Ar rahim mengandung makna badi’ (indah). Di mana Ar
Rahman menunjukkan sifat dzat Allah SWT (sifat) dan Ar Rahim
menunjukkan bahwa Allah menyayangi makhlukNya dengan RahmatNya (pekerjaan). (Kitab
Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al Bana, 58)
2.
Ayat
Kedua
(Segala
puji bagi Allah Tuhan alam semesta)
a.
(Puji)
Kata
ini menunjukkan dua makna yang mendasar:
1)
Memuji
manfaat dari yang dipuji, yang bisa jadi kebermanfaatan tersebut belum
didapatkan.
2)
Bersyukur,
di mana kebermanfaatan yang ada telah dinikmati (diberi nikmat).
Maka
manusia wajib berusaha mengetahui rahasia-rahasia alam dan lainnya agar mampu
mengetahui dengan benar kebesaran Allah SWT sehingga pujian kepada Allah SWT
menjadi pujian benar yang berasal dari
pengetahuan hakiki, perasaan hati dan melalui pikiran, yang bukan sekedar
taklid lafadz karena warisan orang-orang terdahulu.
Kembali
lagi melihat dalam buku Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad
Amuli, alif lam pada kata al-hamdu harus menunjukkan istiqra’
(pengkhususan). Maka Allah adalah satu-satunya yang (patut) disyukuri. Segala
sesuatu (adalah) milikNya, sehingga kita harus bersyukur kepadaNa. Siapapun
tidak diperkenankan bersyukur kepada selainNya. Barangsiapa yang melakukan itu,
ia telah menghantarkan dirinya pada kehancuran dan kehinaan.
b.
(Bagi
Allah)
Di
mana semua pujian dan tindakan bersyukur tersebut hanya kepada Allah. Segala
keindahan Allah adalah indah secara mutlak dansegala kesempurnaan Allah adalah sempurna secara
mutlak, bukan disebabkan kesempurnaan itu indah atau kesempurnaan itu bersifat
relatif. Setiap tempat yang di dalamny keindahan (terwujud), itu adalahh tanda
kebesaran Allah. Dan setiap tempat yang sempurna juga merupakan tanda keagungan
Allah. Sebagaimana bersyukur merupakan bagian dari kesempurnaan dan keindahan,
maka setiap syukur harus (ditujukan) kepada Allah dan tak seorang pun yang
memiliki syukur selain Allah. (Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh
Jawad Amuli, 58)
c.
(Pencipta,
Penumbuh, Pengembang, Pemberi rizky, dan Pendidik)
Al
Baidhawy berkata bahwa Ar-Rabb sebenarnya adalah masdar dengan makna tarbiyah,
yaitu menyampaikan sesuatu agar menjadi sempurna sedikit demi sedikit, kemudian
disifati dengan itu untu mubalaghah. Kemudian Al-Malik dinamakan dengan
itu,karena Dia menjaga apa yang dimiliknya dan menyempurnakannya, dan tidak
dipakai untuk selain Allah SWT kecuali
ditaqid atau diidhafahkan.
Allah
itu yang menciptakan, yang menghidupkan, yang menumbuhkan, yang mengembangkan,
yang memberi rizky dan yang mendidik.
Kata
ini lebih menekankan pada tauhid Rububiyah, bahwa Allahlah yang menciptakan,
memelihara, menumbuhkan, mendidik dan lainnya sehingga Allah sangat layak untuk disembah.
Allah
adalah pendidik dan Ia membagi tugasNya pada Nabi dan Rasul. Sedangkan Nabi dan
Rasul membagi tugasnya pada para ‘Ulama, dan dilajutkan pada Guru-Guru.
Allah
à
Nabi dan Rasul à
‘Ulama à
Guru
Dari
rangkaian tersebut, dapat dilhat dengan jelas ketika dihubungkan dengan ayat
yang selanjutnya yang artinya “Yang Mahapengasih MahaPenyayang”, bahwa sebagai
guru seseorang harus memiliki karakter kasih sayang; yaitu mempunyai kelekatan
pada siswa, melayani dan mendoakan.
d.
(Alam
Semesta)
Alam
semesta memiliki dua unsur pokok, yaitualam semseta yang tercakup dalam sifat
biotik, dan alam semesta yang tercakup dalam sifat abiotik. Biotik tersusun
dari makhluk-makhluk atau cipataan-ciptaan Allah yang hidup (dapat tumbuh dan
berkembang) seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sedangkan abiotik tersusun
dari makhluk-makhluk atau ciptaan-ciptaan Allah yang mati (tidak dapat tumbuh
dan berkembang) seperti tanah, air, tata surya dan lainnya.
Ketika
digabungkan dengan kata Ar-Rabb di atas seperti yang tertera dalam Kitab
Muqaddimah Ilmu Tafsir karya Imam Asy Syahid Hasan Al Bana , tarbiyah
Ilahiyah terhadap semua makhluk terlihat jelas dalam semua bentuk zhahir
alam-alam ini. Menurut beliau maka benda-benda padat disempurnakan oleh Allah SWT dengan rahasia-rahasia
alam ini yang tidak lepas dari proses interaksi, tahlil (penguraian), tarkib,
percampuran, penyatuan dan perubahan. Dalam jenis tumbuh-tumbuhan lebih
jelas terlihat lagi makna Tarbiyah Ilahiyah ini dari jenis benda-benda padat,
berupa makna-makna kehidupan dan dasar-dasarnya. Janin tumbuhan tetap menjadi
janin di dalam biji sampai menemukan tanah yang bagus, maka dia tumbuh,
bergerak, makan dari makanan-makanan sekitarnya yang memang dipersiapkan untuk
itu. Dan begitu pula dengan hewan dalam alur/ritme kehidupannya.
3.
Ayat
Ketiga
(Yang Mahapengasih Mahapenyayang)
Adanya
pengulangan penyebutan kalimat ini dalam tafsir Al Manar dijelaskan bahwa
penyebabnya adalah bahwa TarbiyahAllah terhadap alam semesta bukan kebutuhanNya
terhadap alam semesta tersebut seperti memberi manfaat dan menolak mudharat,
melainkan disebabkan keumuman rahmatNya dan cakupan ihsanNya.
Kemudian
dalalm tafsir Al Manar juga disebutkan penyebab yang lain: Bahwa sebagian orang
memahami makna Ar-Rabb adalah Al-Jabarut dan Al-Qahr, maka
Allah ingin mengingatkan mereka dengan rahmat dan ihsanNya, agar mereka mampu
mengkompilasikan antara keyakinan Al-Jalal dan Al-Jamal. Maka
Allah menyebutkan Ar-Rahman, karena Dia pemberi berbagai nikmat dengan
penuh keluasaan dan kebaruan yang tidak ada ujungnya, serta Ar-Rahim yang
konstan, Dia memiliki sifat Ar-Rahmah yang tidak mungkin hilang selamanya.
Seakan-akan Allah ingin menyampaikan rasa cintaNya kepada hamba-hambaNya, maka
Dia memberi tahu mereka bahwa RububiyyahNya adalah Rububiyyah rahmat dan ihsan, agar mereka mengetahui bahwa sifat ini bisa jadi
rujukan bagi makna sifat-sifat lainnya, maka mereka menerimanya dengan
keridhoan, kelapangan dada dan ketenangan hati.
4.
Ayat
Keempat
(Yang menguasai hari pembalasan)
a.
(Memberikan
arti: memiliki, menguasai, merajai)
Dalam
ayat keempat ini, Syaikh Jawad Amuli membahas mengenai dua cara pembacaan: maalik
dan malik. Dan pembacaan yang pertama lebih sering dan umum
dibanding yang kedua.
1)
Malik
yang mimnya dibaca kasrah
Malik
yang ini menunjukkan makna i’tibar (tidak hakiki) yang kepemilikannya
dapat berpindah tangan. Seperti kepemilikan manusia atas barang dan hartanya.
Kadangkala ada pula kepemilikan manusia yang bersifat hakiki seperti
kepemilikan atas mata, pendengaran dan lainnya. Namun kesifatan hakiki tersebut
masih terdapat batasan-batasan tertentu dan sesuai dengan (makna) kepemilikan
yang sebelumnya.
2)
Malik
yang diibaratkan bagi kepemilikan sebab atas akibatnya
Kepemilikan
ini bersifat hakiki dan tak terbatas, yaitu
kepemilikan Allah SWT atas makhluk-makhlukNya. Dialah sebab atas segala akibat,
atas setiap makhluk-makhlukNya dan setiap keberadaan, tanpa terkecuali. Hal tiu
disebabkan karena kepemilikan Allah bersifat mutlak.
Sangat
diyakini bahwa kekuasaan Allah itu absolut, termasuk Allah adalah dzat yang
absolut menguasai hari pembalasan.
Dalam
pembahasan linguistik, Al-Maliku (lamnya dibaca kasrah) berasal
dari kata al-mulku (mimnya dibaca dhammah dan lamnya
sukun). Ketika melihat dari sebuah penjelasan, tidak ada perbedaan antara al-Maalik
dan al-Malik. Sebab Allah SWT adalah penguasa segala sesuatu dan
pemiliknya. Dari sisi ungkapan tak ada perbedaan bagi Allah SWT.
Penjelasan
dari ayat keempat ini ketika penulis kutip dari Rahasia Tafsir Al-Fatihah
karya Syaikh Jawad Amuli bahwa jika kata al-Malik, lamnya dibaca kasrah,
disandarkan pada masa, maka artinya adalah masa tersebut adalah dharf (kata
keterangan tambahan) bagi kepemilikan al-Malik. Karena itu, firman Allah
dalam ayat keempat ini bermakna bahwa hari pembalasan merupakan dharf dari
tampaknya kepemilikan ini. Arti dari ayat mulia ini bukanlah bahwa hari itu
milik Allah. Sebab, ini merupakan hal yang disempurnakan. Tidak mungkin
seseorang dapat membayangkan sesuatu di antara masa, tempat atau alam, kecuali
bahwa ia adalah milik Allah SWT. Sebab, Dialah sebab keberadaan orang tersebut.
Jika makna ini, dilihat dari sisi kekuasaan Allah SWT, menembus dengan sempurna
dan terrealisasi secara mutlak pada hari tersebut – hari pembalasan – maka
ungkapan yang lebih tepat adalah al-Malik, dengan lam yang
dibaca kasrah.
Akan
tetapi, jika dilihat pada umumnya kata al-Maalik yang di dalamnya ada
kata al-Malik, maka al-Maalik yang lebih tepat. Sebab, Allah SWT
pemilik dan penhuasa segala sesuatu. Dari sisi ini, maka Allah SWT adalah al-Maalik
dan Dia memberikan pada selainNya al-Malik.
b.
(Hari
pembalasan)
Dua
kata ini mengandung dua makna, di antaranya:
1)
Makna
Dzahir
Menunjuk pada hari akhirat. Pemaknaan semacam ini banyak dipahami
oleh para ‘Ulama klasik di mana berawal dari kubur, kebangkitan, pengumpulan,
penimbangan, penghisaban dan pembalasan.
2)
Makna
Bathin
Menunjuk pada kata “langsung”. Di mana pembalasan terjadi ketika
dan atau sesudah manusia melakukan sesuatu. Seperti shadaqah, dan balasan atas
kedurhakaan pada orang tua.
Namun ketika menyelami lebih dalam mengenai
balasan dari Allah SWT, tercakup makna mushibah. Di mana mushibah itu sendiri
dapat terjadi sebagai balasan dari Allah yang dapat disebut sebagai azab, atau
mushibah datang karena ujian atau cobaan dari Allah SWT.
Perbedaan
makna dzahir dan makna bathin adalah karakter balasannya. Balasan yang didapat
di dunia dapat terjadi salah sasaran (misalkan dalam hal keadilan hukum manusia
yang telah rusak) serta balasan terhadap perbuatan yang dilakukan individu
dapat dirasakan secara kolektif/bersama-sama baik hal tersebut adalah nikmat
ataupun siksa.
5.
Ayat
Kelima
(Hanya kepadaMu kami menyembah, dan
hanya kepadaMu kami meminta pertolongan)
Ayat ini
mengajarkan adana penguatan ‘aqidah, ‘ibadah dan akhlak yang mana hanya
ditekankan pada Allah SWT. Aqidah yang kuat terhadap ketauhidan/keesaan Allah,
terhadap segala yang dihajatkan pada Allah, terhadap semua yang dilakukan untuk
Allah. ‘Ibadah yang dilakukan juga hanya karena Allah dan untuk Allah, yang
dilakukan dalam mengimbangi adanya kewajiban dan hak sebagai seorang hamba
Allah SWT. Begitu pula ajaran akhlak yang menekankan pada etika hak-kewajiban,
bahwa memenuhi kewajiban terlebih dahulu adalah hal ang indah sebelum meminta
hak diberikan.
a.
(Hanya
kepadaMu)
Kata ini menunjukkan niat, tujuan atau orientasi melakukan segala
ibadah yang dilakukan hanya kepada Allah. Bukan kepada manusia, bukan pada
leluhur atau bukan kepada pemimpin atau pemerintah.
Dalam buku Rahasia Tafsir Al-Fatihah karya Syaikh Jawad Amuli,
dikaji mengenai penempatan kata ini sebelum kata lain dalam ayat ini. Alasannya
adalah untuk menunjukkan (adanya)
pembatasan di dalamnya hanya kepada Allah; Dialah yang disembah dan
tidak ada selainNya. Apabila kata ‘ibadah yang didahulukan dan kata iyyaka
diakhirkan, maka ayat mulia ini tidak menunjukkan (adanya) pembatasan
ibadah hanya kepada Allah SWT. Kata ini didahulukan juga agar seorang hamba
harus mengetahui dan mengenal Tuhannya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan
keindahan yang ada padaNya, akan menikmati ibadah kepadaNya. Selain itu seorang
hamba dalam keadaan yang sangat sulit di
mana setan selamanya akan membisikkan dan membuat bingung, kadangkala
menghalangi hamba dari ibadah dan adakalanya menginginkan para hamba untuk
menyembah selain Allah, sehingga dengan hal tersebut para hamba harus kembali
pada ayat yang mulia ini untuk kembali mengawali beribadah kepadaNya. Ayat ini
tidak mengatakan “pertama-tama aku menyembah dan kemudian aku mencari Yang aku
sembah
“, tetapi “ pertama-tama, carilah Yang kamu sembah, baru kemudian kamu menyembahNya”. Kata ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya ibadah itu terdiri dari beberapa bagian, yaitu pertama yang harus dilakukan adalah melihat Yang disembah, kemudian melihat urusan-urusan yang berkenaan dengan ibadah, sehingga seorang hamba dapat tenggelam dalam penyembahan.
“, tetapi “ pertama-tama, carilah Yang kamu sembah, baru kemudian kamu menyembahNya”. Kata ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya ibadah itu terdiri dari beberapa bagian, yaitu pertama yang harus dilakukan adalah melihat Yang disembah, kemudian melihat urusan-urusan yang berkenaan dengan ibadah, sehingga seorang hamba dapat tenggelam dalam penyembahan.
b.
(kami
mengabdi, menghamba, menyembah)
Kata ini memiliki beberapa arti predikat yang menyandang subjek
“kami” di dalamnya, yaitu mengabdi, menghamba dan menyembah. Mengabdi,
menghamba dan menyembah terbagi dalam dua unsur pokok, di antaranya al-‘Amm dan
al-Makhdhoh. Al-‘Amm ( ibadah yang tidak langsung diatur dengan tatacara
melakukannya) terdiri atas predikat ibadah belajar, bekerja dan lainnya.
sedangkan al-Makhdhoh (ibadah yang telah diatur tatacara melakukannya) terdiri
atas ibadah shalat, puasa, haji dan lainnya.
Predikat mengabdi, menghamba dan menyembah di sini hanya akan
bernilai pahala ketika memiliki syarat “ikhlas”. Ikhlas berdefinisi tidak ada
kaitannya dengan honorarium. Segala ibadah dapat dikatakan ikhlas, di antaranya:
1)
Apabila
setidaknya ikhlas dalam niat yaitu hanya mencari ridho Allah
2)
Apabila
adanya profesional dalam bekerja dengan melakukan segala aktivitas dengan
sebaik-baiknya
3)
Apabila
adanya pemanfaatan hasil di jalanNya
c.
(dan
hanya kepadaMu)
Kata ini menegaskan pula seperti kata Iyyaka yang di awal ayat, di
mana dengan didahulukannya kata “dan hanya kepadaMu” untuk menunjukkan (adanya) pembatasan di dalamnya hanya
kepada Allah; Dialah yang layak dimintai pertolonan dan tidak ada selainNya.
d.
(kami
minta pertolongan)
Kata
ini menegaskan pada ketauhidan dan keyakinan yang total dan maksimal atas
permohonan pertolongan hanya pada Allah SWT. Yakin bahwa hanya Dialah yang
dapat mengabulkan segala pertolongan dan permintaan yang semua manusia inginkan.
Karena hanya Dialah yang mampu akan itu semua. Maka tidak ada satupun yang
memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan dan perlindungan. Hana atas
izin Allah lah segalanya dapat etrjadi. Sekalipun Dajjal yang diberitakan bahwa
nantinya ia dapat menghidupkan yang mati, menumbuhkan tanaman, dan lain
sebagainya, namun itu semua tiak kan dapat terjadi ketika Allah tidak
mengizinkan hal teraebut terjadi.
6.
Ayat
Keenam
(Tunjukilah
kami jalan yang lurus)
Jalan yang
dimaksud di sini adalah jalan yang lebar, luas dan bebas hambatan, yaitu jalan
menuju surga Allah SWT Yang telah menciptakan kehidupan ini. Sedangkan hambatan
yang ada dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Hambatan
dari internal manusia
Hambatan
ini muncul dari dalam diri manusi aitu sendiri dalam mencapai jalan yang lurus.
Yaitu munculnya keragu-raguan akan Allah SWT dan akan agamaNya yang diridhoi.
Dari keragu-raguan tersebut muncullah kemalasan yang dapt menghalangi manusi
untuk menuju surgaNya.
b.
Hambatan
dari eksternal manusia
Hambatan
ini muncul akibat adanya dorongan dari pihak luar manusia. Seperti beredarnya
bacaan yang menguatkan akan keraguan terhadapa Allah SWT, adanya pengaruh
komunikasi dengan manusia yang lainnya, atau dari pengaruh tekhnologi yang
dfapat mengendalikan pengarahan paradigma dan ideologi manusia itu sendiri.
Kata “hidayah” dalam ayat ini memiliki dua fase dalam
pencapaian untuk dapat menuju jalan yang lurus tersebut, di antaranya adalah:
a.
Melalui
‘Ilmu
Manusia melalui jalan peningkatan ilmu dan pengetahuannya dapat
lebih mengetahui hal-hal yang sebenarnya, termasuk kebenaran agama Allah SWT.
Ketika manusia tidak mengembangkan ilmu pengetahuannya kemungkinan besar hanya
berjalan di fase yang tidak bergerak. Tingkat keimanan seorang yang tidak
belajar tidak tertumbuhkan akibat adanya sikap ketidaktahuannya akan
tanda-tanda kekuasaanNya. Tanda-tanda kekuasaanNya tersebut dapat dilihat,
dirasakan dan dianalisad dengan sengaja melihat, merasakan dan menganalisanya
melalui pencarian ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga akan mencapai pada fase
“tahu”.
Dalam ilmu, terdapat tiga poin yang harus dilihat, yaitu aspek
cognitive (pengetahuan), aspek afektive (penghayatan), dan aspek psikomotorik
(praktik). Ketika manusia telah mengetahui atau melewati aspek pengetahuan maka
akan muncul komprehensive yang membantu menguatnya aspek afektif, dan begitu
pula ketika kedua aspek tersebut telah berhasil terlewati, maka akan terjadi
tumbuhnya characterization yang membantu menguatnya aspek praktik.
1)
Melalui
‘Amal
Pada
fase ini ditekankan bahwa manusia dapat menerima hidaya =h dari Allah SWT
dengan kerja nyatanya. Dengan amal-amalatau karya-karya uyang dilakukan dengan
sungguh-sungguh. Kerja-kerja ini dapat dilakukan pada berbagai profesi atau
bagian yang ditekuni dengan orientasi kebaikan untuk dirinya dan tidak menutup
diri dari kebenaran Ilahi. Fase ini dapat dilihat dari banyak kejadian yang
sudah menjadi bukti akan adanya hidayah Allah terhadap hamba-hambaNya melalui
karya-karya di dunia.
Dari kedua fase ini, selayaknya terdapat penyesuaian dan penyeimbangan,
sehingga tidak menghiraukan salah satu atau keduanya. Ilmu harus diamalkan, dan
amal harus memiliki ilmu sebelum melakukannya. Bukan dengan ilmu saja tanpa
adanya realisasi yang mengimplementasikan segala ide yang ada dalam diri, dan
bukan hanya amal yang menggebu-gebu tanpa didasarkan pada ilmu untuk
melaksanakannya.
Imam Hasan Al Bana menjelaskan dalam kitab Muqaddimah Ilmu
Tafisrnya mengenai empat perantara untuk mendapatkan hidayah, yang mana
perantara-perantara tersebut bertingkat-tingkat berdasarkan orang-orangnya dan
jenisnya, sesuai dengan tingkatan pertumbuhan dan kesiapan mereka. Di antaranya
adalah:
1)
Perasaan
tabi’i dan ilham fithri, ini sudah dimiliki seorang bayi semenjak
kelahirannya.
2)
Indera
dan perasaan yang berkembang sejalan dengan perkembangan manusia, berupa
pendengaran, penglihatan, alat perasa dan penciuman. Sebagian besarnya bisa
melakukan kesalahan.
3)
Akal
dengan kekuatannya yang berbeda-beda, berupa pengetahuan, pemikiran, khayalan,
hafalan, ingatan... sampai akhir. Dia adalah sumber hukum dan inti taklif bagi
seorang manusia. Dia bisa membenarkan kesalahan indera dan mengetahui
hakikat-hakikat sesuatu, baik konkrit maupun abstrak.
4)
Agama,
petunjuk Ilahi dan risalah-risalah langit yang diturunkan bersama oara
Rasul dan Anbiya’ Alaihim Ash Shalah wa As Salam.
7.
Ayat
Tujuh
((yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang
dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat)
Ayat ini mengandung
penjelasan terhadap ayat sebelumnya, yaitu menegani jalan yang lurus. Dikatakan
jalan yang lurus ketika jalan tersebut bukanlah jalannya orang-orang yang
dimurkai dan bukan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat.
Dalam ayat ini
terdapat tiga bentuk manusia yang dicirikan Oleh Allah SWT, yaitu orang-orang
yang diberi nikmat oleh Allah SWT, juga kedua golongan yang disebutkan pada
paragraf di atas (orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat).
Menurut sebagian ahli tafsir, orang-orang yang diberikan nikmat Oleh
Allah SWT adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran, dan Allah memberi
taufik kepada mereka untuk mengikutinya, maka mereka mendapat hidayah ke jalan yang lurus. Yaitu mereka para Nabi
dan Rasul, para Syuhada’, serta orang-orang mukmin dari ummat Muhammad SAW,
atau selainnya dari ummat-ummat sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud orang-orang
yang dimurkai tersebut adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran, kemudian
berpaling darinya, dari agama apapun berasalnya dan kapanpun hidupnya Yaitu
kaum Yahudi yang berpaling dari petunjuk Taurat, Majusi, dan Kaum Nabi Luth. Keberpalingan
inilah yang menjadikan Allah SWT marah atau murka. Sedangkan orang-orang yang
sesat adalah orang-orang yang lalai dari kebenaran dan mereka merasa betah
dalam lembah kesesatan, atau orang-orang yang berpegang dengan kebenaran, akan
tetapi mereka tidak bisa mendapatkan petunjuk dengannya, dari agama apapun
berasalnya dan kapanpun hidupnya. berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Injil
yang benar Yaitu kaum Nashrani.
Sehingga dalam ayat ketujuh ini, manusia dianjurkan untuk berdoa kepada
Allah SWT agar dapat ditunjukkan jalan orang-orang yang diberi nikmat sehingga
dapat sampai pada tujuan akhir kehidupan ini dan dapat terhindar dari dua jalan
yang lainnya. ditunjukkan bukan pada jalan kedua golongan orang-orang yang
dimurkai ataupun jalan orang-orang yang sesat.
Oleh Latifatul
fajriyah (20130720090), diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Tafsir Qur'an dan Hadits serta Ayat Pendidikan, Dosen Pengampu Bapak Marsdui Iman

0 comments :
Post a Comment